Langsung ke konten utama

Lactacyd Baby Ceriakan Si Kecil




Being a new mom is a real adventure for me..

Setelah Radit (anak pertama saya) lahir, barulah saya benar-benar menyadari bahwa pelajaran menjadi Ibu itu sangatlah eksklusif. Ibarat kata, ilmu menjadi Ibu itu priceless, sesuatu yang tidak mungkin didapatkan di bangku sekolah manapun.

Bagi seorang wanita yang awam seperti saya, hari-hari pertama melakoni peran sebagai ibu adalah saat-saat yang boleh dikata amat sangat berat. Saat masih hamil dulu, sering saya dilanda rasa khawatir akan ketidaksiapan dan ketidakmampuan saya mengurus bayi.

Ketidakmampuan tersebut bukan tanpa alasan, lantaran saya memang tidak pernah punya satupun pengalaman mengurus bayi. Dulu, saat kedua adik saya lahir, saya masih sangat kecil dan belum pernah merasakan merawat mereka saat masih bayi. Jadi, jangankan mengurus bayi, menggendong pun saya tidak tau.

Tapi, satu hal yang perlu kita sama-sama ingat, menjadi ibu adalah bukan masalah siap atau tidak siap, bisa atau tidak bisa. Ketika anak telah lahir, seorang ibu dituntut harus langsung siap dan bisa melaksanakan semua kewajibannya sebagai seorang ibu yang baik bagi buah hatinya. Satu hal yang perlu kita persiapkan untuk menyambut kehadiran buah hati kita adalah mengasah "Naluri Keibuan" kita.

Semua ibu pasti memiliki nalurinya masing-masing. Ia datang dari ikatan (bonding) antara ibu dan anak. Faktanya, ibu dan anak pernah menyatu dalam satu tubuh yang sama sebelum sang anak lahir. Itulah sebabnya tak ada yang mampu menampik kuatnya ikatan ini.

Ketika sedang ada masalah pada anak semasa bayi, kekuatan naluri kita sebagai ibu harus kuat. Mengapa? Karena bayi belum bisa berbicara dengan kata-kata. Ia hanya bisa menangis untuk mengungkapkan perasaannya.

Kekhawatiran saya pun terbukti ketika Radit lahir. Saya benar-benar kagok mengurusnya. Dalam hati, ingin rasanya membuatnya bahagia dan berhenti menangis saat ia terus saja menjerit tanpa henti. Tak tega.. Namun arti di balik tangisnya terus saja menjadi tanda tanya.

Keahlian menjadi ibu yang mahir mengurus bayi adalah sebuah proses, bukan semata hasil yang bisa diperoleh secara instan. Biarkan hati tergerak sendiri ketika bayi mulai menunjukkan reaksi yang berbeda dari biasanya. Di sinilah kekuatan insting ibu mulai bekerja.

Pengalaman saya bersama Radit ini contohnya..

Suatu malam, Radit yang setiap malam selalu tidur nyenyak, tiba-tiba terbangun. Ia yang biasanya bangun dengan senyum ceria, kali itu hanya bisa menangis tanpa henti, disertai jeritan melengking..

Kira-kira, apa yang terjadi pada Radit ya?

Reaksi pertama yang saya langsung lakukan adalah menggendong dan mengayunnya di pelukan saya, lalu saya coba menyusuinya karena curiga mungkin Radit haus. Hasilnya: nihil.. Ia menolak minum ASI, air putih pun enggan. Tangisannya tak kunjung berhenti, malah makin kencang saja. Bingung..

Reaksi kedua, mungkin ia sakit perut karena kembung atau masuk angin. Jadi, saya coba oleskan minyak telon untuk menghangatkannya. Namun, sepertinya tak berhasil. Beberapa menit berlalu, ia terus saja menangis.

Reaksi ketiga, saya coba periksa popoknya, khawatir jangan-jangan penuh.. Lalu, di sinilah semua keresahan saya terjawab. Bukan karena penuh, tapi ternyata kulit Radit (yang tertutup popok) memerah dan mulai meradang. Jika melihatnya, pasti langsung terbayang perihnya.

Sedih melihatnya..

Saya langsung menyalahkan diri sendiri, kepercayaan diri langsung menurun ke level terendah. Rasanya gagal saja sebagai ibu, lantaran merawat kulit bayi saja nggak becus. Saat coba tanya ke ibu saya, malah diomelin. "Kamu makanya yang rajin gantiin popok Radit.. Jangan nunggu popoknya penuh dulu baru ganti.. Kulitnya merah-merah kena ruam popok tuh.."

Terus terang, di rumah saya termasuk anak pembangkang. Namun, sejak ada Radit, semua kata-kata mama, entah nasihat ringan atau omelan, saya dengarkan dengan seksama. Prinsipnya, orang tua lebih berpengalaman. Tugas kita, manut saja.. Toh, ini kan pelajaran..

Justru diomelin begitu, kata-kata ibu langsung nyangkut dengan mudah di kepala saya.

Ruam popok? Apa itu?

Penampakannya sangat mengerikan di kulit bayi. Merah, bentol-bentol, beberapa terkelupas.. Makin perih bila lembab terkena keringat atau pipis bayi. Ruam popok disebabkan karena berkembangnya kuman dan bakteri di sekitar area kulit yang tertutupi popok, mengakibatkan iritasi.



Pada kasus Radit, ruam popoknya parah, merah-merahnya menyebar ke bagian punggung. Iritasinya menyebabkan sebagian kulit yang terkelupas mulai berdarah. Saking parahnya, kulitnya terinfeksi, menyebabkan Radit demam.

Terlambat bagi saya untuk sadar akan resiko ruam popok ini. Namun begitu, tindakan pencegahannya tak boleh ikut lambat. Karena kejadian ini, saya semakin sering mengganti popoknya. Berharap agar perkembangan bakterinya tak menerus.

Saya juga coba menaburkan bedak bayi ke kulit Radit yang terkena ruam popok. Tak berhasil! Keesokan harinya ruamnya malah makin parah. Radit mulai menunjukkan sikap tak tahan ingin menggaruk, diiringi tangisan superkencang.

Nah.. Karena kejadian inilah, saya nggak mau main-main lagi dengan kulit Radit. Saya langsung buru-buru mencari tahu apa penanganan yang tepat untuk mengatasinya. Setelah browsing sana-sini mencari informasi, bertanya ke orang yang berpengalaman, semua berujung pada satu kesimpulan: Kulit bayi sangat sensitif!

Fakta itulah yang membimbing naluri saya mencari produk yang tepat untuk Radit, lantaran sedih melihatnya rewel tiap hari, seolah hilang keceriaan dari wajahnya.

Pertemuanku dengan Lactacyd Baby

Saya coba ke apotek, membanding-bandingkan berbagai macam produk pencegahan dan penanganan ruam popok bayi, akhirnya ketemulah saya dengan Lactacyd Baby. Di kemasan botolnya yang berwarna putih, ada keterangan kandungan pH 3-4, sangat cocok dan aman untuk kulit bayi.



Salah satu alasan yang membuat saya tertarik dan antusias menggunakan Lactacyd Baby adalah bentuknya yang Liquid (cair) dengan komposisi yang diformulasi khusus untuk merawat kulit yang terkena ruam popok. Formula Lactacyd Baby juga diperkaya dengan ekstrak susu untuk menjaga kelembutan kulit si kecil di segala kondisi.

Menurut saya, produk perawatan kulit berbentuk cair lebih pas digunakan untuk kulit teriritasi, lebih praktis. Pemakaiannya pun mudah, nggak neko-neko, cukup ikuti petunjuk pada kemasan.

Keesokan harinya, saya langsung mengaplikasikannya saat memandikan Radit, diawali dengan mengencerkan 3-4 sendok penuh pada air mandinya yang hangat. Selanjutnya, saya bersihkan wajah dan bagian tubuh lainnya dengan Lactacyd Baby, mirip dengan penggunaan sabun cair. Begitupun untuk kulit kepalanya, Lactacyd Baby bisa berfungsi seperti shampoo. Asyiknya, Lactacyd Baby memiliki aroma yang lembut, bikin saya dan Radit senang dan menikmati waktu mandi, seperti bermain saja. Saking senangnya, Radit tak tahan untuk bermain kecipak-kecipuk dengan air mandinya. Basah deh.. Tapi nggak apa-apa, saya senang bisa melihat Radit bisa ceria lagi.

Saat membersihkan area bawahnya saat selesai buang air besar ataupun kecil, saya mengandalkan air yang sudah dicampurkan dengan Lactacyd Baby untuk membasuhnya.

Penting untuk memperhatikan daerah lipatan pada kulit bayi. Karena jika lembab pada daerah lipatan kulit, bisa memungkinkan perkembangan bakteri yang lebih besar, berpotensi membuat ruam makin menyebar.

Sebelumnya, Radit selalu rewel jika saya ingin memasang atau mengganti popoknya. Ruam popok yang gatal dan perih membuatnya tak nyaman. Entah kenapa, setelah mandi dengan Lactacyd Baby, saat akan memasang popoknya, Radit lebih tenang, sehingga saya pun tak sulit mengganti popoknya.



Saya juga coba mencampurkan beberapa tetes Lactacyd Baby ke air hangat untuk mengelap kulit Radit dengan handuk yang saya celupkan ke air tersebut di sore hari. Ini rutin saya lakukan, untuk menjaga kebersihan kulitnya setelah beraktivitas dan bermain dengan lincah seharian. Saya khawatir kuman-kuman menempel dan masuk ke pori-pori Radit saat ia berkeringat.

Entah ini keajaiban atau apa namanya, setelah 3 hari rutin memandikan dan membersihkan kulit Radit dengan Lactacyd Baby, ruam popoknya berangsur menghilang dan mengering. Awalnya mungkin sedikit terasa gatal karena Radit masih sering menggaruk. Ini wajar, itu berarti kulitnya sedang berproses untuk segera pulih dari siksaan ruam popok. Berhasil!

Senangnya..

Saat melihat Radit bisa bermain dengan ceria, memamerkan deretan gigi-gigi susunya saat tertawa, rasanya bahagia sekali. Lega bisa menemukan Lactacyd Baby, formula mutakhir untuk menangani masalah ruam popok pada kulit si kecil.



Gunakan Lactacyd Baby saat memandikan bayi pagi dan sore. Sangat dianjurkan untuk anak yang aktif bergerak. Penting juga untuk menjaga kesehatan kulit si kecil selama masa pancaroba, yang udaranya tak menentu, kadang lembab, kadang kering.

Jadi, saat naluri ibu menggerakkan hati untuk memilih Lactacyd Baby, percayalah.. Itu solusi terbaik untuk si kecil.

Anak ceria.. Ibu ceria..

NB: Tertarik menggunakan Lactacyd Baby untuk si Kecil? Silahkan langsung kunjungi fanpage Facebook Lactacyd Baby.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Puskesmas Minasa Upa Menuju Peningkatan Derajat Kesehatan Warga Makassar

"Mau miskin, mau kaya, semuanya berpotensi sakit. Makanya kita terus berinovasi di bidang kesehatan.."


Pernyataan di atas disampaikan langsung oleh Bapak Ir. Muh. Ramdhan Pomanto (Walikota Makassar) dalam sambutannya saat berkunjung ke Puskesmas Minasa Upa, Senin 9 Oktober 2017. Kunjungan tersebut sekaligus untuk meresmikan UPTD Puskesmas Minasa Upa Makassar.


Bagi saya, kunjungan Bapak Walikota yang akrab disapa dengan nama "Pak Danny" ini sangat spesial, karena Puskesmas yang tepat berada di depan rumah saya ini banyak memberi kenangan tersendiri.



Wajah Baru Puskesmas Minasa Upa


Boleh dikata masa kecil saya dihabiskan dengan bermain bersama teman-teman sekompleks di daerah BTN Minasa Upa. Bahkan di sore hari, saya dan teman-teman sering main petak umpet di pekarangan dan ruang tunggunya yang dulu masih berbentuk semi terbuka.

Dulunya, Puskesmas yang berada di Kelurahan Karunrung, Kecamatan Tamalate ini hanya berupa bangunan sederhana 1 lantai. Seiring waktu, ia te…

Kota Anging Mammiri Semarak Dibuai Kilau F8

"Anging Mammiri Kupasang..
Pitujui Tontonganna..
Tusaroa Takkalupa.."

Selalu terharu, bahkan bisa menitikkan air mata saat mendengar lagu Anging Mammiri mengalun ketika kebetulan saya sedang jauh dari kampung halaman.. Rindu sudah pasti, tapi jika kaki masih jua di tanah rantau, belum sanggup beranjak pulang, apa mau dikata.. Hanya doa yang terangkai, agar rasa ingin berjumpa ini cepat-cepat tuntas.. Menghitung hari.. Membayangkan sanak saudara di pelupuk mata..

Kemudian.. syukur luar biasa saat melihat kota Makassar ini sudah berkembang jauh. Mungkin karena kemajuan jaman yang berpengaruh banyak pada perubahan tingkah laku, kebutuhan, dan gaya hidup masyarakatnya, Makassar kini tumbuh menjadi kota metropolitan. Pembangunan dengan pesat telah mengisi sendi-sendi kehidupan di kota yang terkenal dengan Pantai Losari ini.

Banyak yang berpendapat seperti ini.. "Tak lengkap rasanya bila ke Makassar tapi belum pernah berkunjung ke Pantai Losari..". Oleh karenanya, tak meng…

Nia Ramadhani Buka Toko "Roti Mama Nia" di Kota Makassar

Apa menu favoritmu saat sarapan? Atau.. kalo lagi gak pengen makan yang berat-berat, apa makanan ringan yang jadi pilihanmu sebagai teman bersantai atau bekerja?

Beragam pilihan makanan bisa jadi jawaban, tergantung selera masing-masing.. Tapi kalo aku sih,  jawabannya simple aja: Kalo bukan kue, ya roti, alasannya karena lebih gampang didapat dan pilihan rasanya juga variatif.
Roti termasuk salah satu penganan yang selalu berinovasi dari waktu ke waktu. Sejarah mengungkap bahwa awal mula perkembangan roti dimulai dari daerah Mesir dan Mesopotamia, di mana ketika itu manusia mulai menjadikan gandum sebagai makanan pokok.

Seiring waktu, manusia mulai menemukan cara yang lebih baik untuk mengolah gandum agar menjadi makanan yang lebih enak dan layak dikonsumsi, yaitu dengan dilumatkan dengan air hingga menjadi pasta, dipanaskan di atas api, lalu dikeringkan. Roti bahkan pernah menjadi penanda strata sosial manusia kala itu, tergantung dari warna rotinya. Semakin gelap warna roti, maka …