Senin, 28 Mei 2018

Viralkan Rebranding Koperasi Via Medsos

Teman-teman..

Setelah sama-sama belajar dan flash back ngebahas tentang sejarah koperasi, peranan badan hukum ini terhadap perekonomian Indonesia, dan Rebranding Koperasi sebagai jembatan penghubung peristiwa historik keberadaan Koperasi dan generasi millenial pada tulisan saya sebelumnya "Siapa Bilang Koperasi Itu Jadul?" , sekarang mari kita telaah lebih spesifik lagi mengenai metode yang paling tepat diterapkan untuk menggenjot semangat generasi muda jaman ini untuk lebih peduli dan mau melibatkan diri dalam kegiatan pengembangan dan optimalisasi fungsi Koperasi di Indonesia..


Di era serba digital ini, Koperasi mulai menembus Generasi Millenial (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Karakteristik Generasi Millenial

Beberapa dari kita mungkin sudah akrab dengan istilah Generasi Millenial atau "Gen Z", yang digunakan untuk merepresentasikan penduduk di kalangan usia 17-37 tahun. Dari keseluruhan penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 255 juta jiwa, sebanyak 81 juta merupakan generasi millenial.


Generasi millenial lahir dan berkembang di lingkungan serba digital. Jika ditinjau dari karakter dan pengaruh lingkungannya, mereka cenderung lebih kritis, kreatif, dan open minded terhadap segala hal yang menarik perhatian atau menggugah rasa penasarannya.


Generasi millenial itu adalah agen perubahan yang dinamis, aktif bergerak membawa pengaruh pada orang-orang di sekitarnya. Namun jangan salah, karena karakter kritis yang mereka miliki inilah, kita harus pintar-pintar dan sedikit tricky jika ingin membuat mereka excited. 



Potret Generasi Millenial.. berinteraksi secara aktif di kehidupan nyata dan media sosial


Dikutip dari hipwee.com, berikut ini karakter Generasi Millenial yang harus kita pahami:

  1. Generasi Millenial cenderung lebih percaya dengan User Generated Content (UGC) ketimbang informasi satu arah sebelum memutuskan membeli sebuah produk. Ketimbang jadi korban iklan TV lalu zonk, Generasi Millenial justru akan mencari tahu review dari orang-orang yang sudah menggunakan produk tersebut. Sebaliknya, ketika mereka menjadi user, mereka juga tak segan untuk blak-blakan menginformasikan pengalaman mereka memakai sebuah brand, entah itu baik ataupun buruk.
  2. Generasi Millenial mengandalkan sosial media sebagai pusat informasi dan sarana interaksi dengan sesama netizen. Jadi, wajib bagi kalangan ini untuk memiliki akun sosial media. Ibarat kata, Gen Z hidup di dua dunia: nyata dan maya.
  3. Terjadi pergeseran gaya membaca pada generasi millenial. Jika pada generasi sebelumnya, orang cenderung membaca secara konvensional dari media buku. Kini, meski metode konvensional tak sepenuhnya ditinggalkan, pola baca mulai beralih ke digital, di mana dulunya harus mencari buku di toko buku atau perpustakaan, sekarang sudah bisa akses melalui e-book.
  4. Smartphone menjadi suatu barang wajib bagi generasi millenial. Kenapa? Karena lebih praktis, fleksibel, dan multitasking. Dengan adanya smartphone, kita bisa lebih cepat memperoleh informasi setelah terkoneksi dengan internet. Generasi millenial bahkan lebih menikmati menonton film dari layar handphone ketimbang TV.
  5. Generasi Millenial menjadikan orang tua mereka sebagai tempat untuk meminta pertimbangan, saran, atau pendapat saat mereka akan menentukan pilihan. Mereka cenderung lebih percaya kepada orang tua, yang mereka anggap lebih berpengalaman dalam menghadapi masalah-masalah hidup.
Smartphone dan akun Media Sosial menjadi barang wajib bagi Generasi Sosial agar bisa terus eksis di era digital ini (image: dreamstime.com)

Oke.. merunut pada poin-poin di atas, jelas terlihat bahwa generasi millenial cenderung berpatokan pada keberhasilan suatu brand membuktikan tagline yang diiklankan, dibuktikan dari testimonial individu yang telah menggunakan produk tersebut.

Karena sekarang jaman sudah serba dimudahkan dengan keberadaan sosial media, maka tanpa perlu repot bertanya sana-sini tentang produk yang ingin mereka tahu, generasi millenial akan spontan untuk searching di internet untuk mencari review-nya. Misalnya: review make-up. Generasi Millenial cukup mencarinya di Youtube, Blog, Google, Twitter atau Instagram untuk melihat poin plus atau minus dari item tersebut, berdasarkan konten yang ditampilkan.

Nah.. fenomena inilah yang melatarbelakangi munculnya istilah "marketing influencer", yang disematkan kepada mereka yang berpengaruh kuat dalam lingkup pergaulan mereka, khususnya di sosial media (sosmed). Gak heran, bila para influencer tak hanya harus pintar membahas produk dan mempengaruhi audience-nya, namun mereka juga harus punya banyak followers, pembaca, fans, atau subscribers di akun sosmed ataupun channel mereka. Semakin banyak yang mengikuti akun mereka, maka jangkauan pemasaran akan semakin luas.


Social Media Influencer lahir dari pergeseran perilaku penduduk dunia yang mulai menggunakan sosial media untuk mencari informasi faktual (sumber gambar: provenseo.com)

Tak heran juga, bila akhirnya beberapa brand saat ini tak hanya butuh bintang iklan sebagai sarana promosi di TV ataupun billboard. Untuk mengikuti gaya hidup generasi millenial sebagai konsumen utama, mereka mulai juga merekrut para influencer sebagai jalan melebarkan pasar, menjangkau celah-celah eksistensi millenials yang merupakan target marketing.

Pentingnya Pemahaman Generasi Millenial tentang Peran Koperasi bagi Perekonomian Indonesia


"Generasi millenial yang akan memiliki koperasi di masa depan.
Kalau Generasi Millenial cuek dan tidak peduli, maka masa depan Koperasi di Indonesia akan suram. Sekarang saatnya generasi millenial merasa penting untuk ikut bersama-sama menggerakkan ekonomi nasional melalui koperasi. Talking and action.." (Meliadi Sembiring - Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, disampaikan dalam Cooperative Talk "Pemuda dan Rebranding Koperasi di Era Millenial")

Kutipan di atas merefleksikan bahwa rela ataupun tidak, generasi pra-millenial wajib menyerahkan tongkat estafet perjuangan bangsa ini kepada penerusnya, dalam hal ini: kaum millenials.

Permasalahan selanjutnya, apakah generasi millenial sudah siap menerima tongkat estafet tersebut?


Koperasi Indonesia adalah warisan sejarah bangsa yang perlu diestafetkan ke tangan generasi muda (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)


Satu hal yang harus kita pahami bersama, tongkat estafet yang akan generasi millenial pegang bukan hanya semata barang pusaka biasa, yang karena sudah nampak kuno dan kurang kekinian, lantas dipajang saja di museum, tanpa ada sedikitpun kesadaran untuk mencari tahu latar belakang keberadaannya, lalu meneruskan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai para pelaku sejarah, dan kemudian acuh tak acuh, larut begitu saja dalam arus modernisasi yang mungkin saja bisa mengikis nasionalisme pemuda jaman ini.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.."

Hawa kebebasan yang kita hirup saat ini adalah hasil tetes darah dan kucuran keringat para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah yang merenggut hak azasi dan kekayaan nenek moyang kita secara tidak manusiawi.

Lahirnya Proklamasi sebagai momentum perubahan besar dalam sejarah bangsa ini tentu tak boleh dipandang sebelah mata oleh generasi millenial. Begitupun dengan munculnya ide untuk mendirikan Koperasi sebagai sarana mengejar keadilan dan kesejahteraan, agar lepas dari kejahatan para lintah darat, yang merajalela pada jaman sebelum Koperasi lahir.

Namun kenyataannya, harus diakui bahwa saat ini nama, makna, dan peranan Koperasi untuk perekonomian nasional belum terlalu populer di kalangan anak muda jaman sekarang. Bahkan, dalam sebuah survei dikatakan bahwa generasi millenial (usia 17-30 tahun) yang jumlahnya mencapai 60% dari total populasi warga Indonesia (bonus demografi), justru tidak paham dan tidak tertarik dengan Koperasi. Sangat disayangkan..

"Bila perekonomian Indonesia dapat diibaratkan sebagai kebun, maka koperasi adalah pohon-pohon yang tumbuh di dalam kebun tersebut, yaitu siap dipetik buahnya oleh seluruh rakyat Indonesia."(Bung Hatta)


Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia (sumber: rullytricahyono.com)


Mungkin pemuda kita hanya mengenal Bung Hatta sebagai tokoh proklamator, mendampingi Ir. Soekarno dalam merumuskan dan membacakan Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Namun, mungkin saja banyak generasi millenial yang belum tahu bahwa Bung Hatta adalah juga merupakan "Bapak Koperasi Indonesia". Dari tangan beliaulah, Koperasi berkembang sebagai wadah bagi rakyat kita di jamannya untuk meraih kesejahteraan dengan jalan adil.


Untuk generasi millenial, koperasi membawa virus kecintaan pada produk lokal, sehingga benda-benda berbau tradisional kini naik gengsi

Seorang pengamat perkoperasian, Suroto meyakini, bila generasi millenial tidak tertarik akan koperasi, maka dipastikan Koperasi akan punah dari bumi Indonesia.. Pertanyaan yang timbul, apakah kita rela kehilangan Koperasi?
Generasi millenial seharusnya mampu menjadi pendorong untuk mereposisi koperasi sebagai suatu sistem ekonomi futuristik yang modern. Karena yang bisa menjawab tantangan kebangsaan dengan nilai kebersamaan dan keadilan untuk kesejahteraan anggotanya adalah koperasi.

Pemerintah, melalui Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, di bawah kepemimpinan Bapak Menteri Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga pun melihat fenomena kaum Millenial ini sebagai satu hal yang patut diberi perhatian khusus.


Bapak Menteri Koperasi dan UKM ketika menyerahkan sertifikat badan hukum koperasi kepada pelaku UKM (sumber: instagram @kemenkopukm)


Sebuah Cooperative Talk bertajuk "Pemuda dan Rebranding Koperasi di Era Millenial" pun diadakan, dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang kompeten di bidang Koperasi dan kepemudaan, guna merangkul lagi semangat anak-anak muda Indonesia untuk lebih peduli dengan masa depan koperasi sebagai salah satu tonggak perekonomian bangsa ini. Di era ini, Koperasi turut menjadi penyokong berdirinya UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) agar masyarakat kita bisa lebih mandiri dari segi keuangan, dengan memanfaatkan kreativitas, mampu menciptakan lapangan kerja baru dengan menjadi pelaku usaha

Dalam rangka optimalisasi fungsi Koperasi dan sosialisasi kepada generasi muda, Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia juga telah mengangkat Rano Karno sebagai Duta Koperasi Indonesia, mengingat perannya memajukan UMKM di Provinsi Banten.





Secara khusus, Pemerintah pada Hari Koperasi Indonesia 12 Juli untuk memperingati kelahiran Koperasi di Indonesia. Salah satu targetnya adalah untuk meningkatkan semangat Koperasi di kalangan generasi muda dan perempuan, dengan sasaran sebagai berikut:
  1. Tumbuh dan berkembangnya semangat membangun kehidupan berkoperasi di berbagai bidang kegiatan ekonomi, baik oleh gerakan Koperasi sendiri, maupun pemerintah dan masyarakat
  2. Meningkatkan komitmen, apresiasi, dan kesadaran masyarakat dalam berkoperasi
  3. Meningkatkan fasilitas pengembangan usaha anggota melalui pengembangan kerjasama antar koperasi dengan badan usaha lainnya
Koperasi membangun daya saing nasional (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Nah.. kalo Pemerintah sudah menawarkan solusi yang sangat mencerahkan seperti ini, kenapa anak muda tidak ramai-ramai memanfaatkan ini sebagai peluang untuk menjadi mandiri secara finansial di usia dini, dengan turut mendirikan UKM bersama Koperasi? Dengan mengandalkan kreativitas yang lebih kekinian, anak muda pasti bisa makin eksis karena lebih tau hal-hal yang lebih nge-trend dan jadi selera jaman sekarang.



Koperasi turut menjadi ajang pengrajin lokal memperkenalkan kualitas produknya kepada dunia, bahkan kini produk UKM sudah merambah ke mal-mal modern di kota besar yang banyak didatangi kaum millenial

Kemudian, berdasarkan amanat Pasal 33 UUD 1945 dan misi Jokowi-JK untuk mereformasi ekonomi, Kementerian Koperasi dan UKM RI menjalankan Reformasi Ekonomi sebagai wujud Ekonomi Berdikari, yang terdiri atas 3 poin: Rehabilitasi Ekonomi berupa pembaharuan organisasi, Reorientasi Koperasi dari Kuantiras menjadi Kualitas, dan Pengembangan Koperasi itu sendiri.


Tujuan 3 poin Reformasi Koperasi yang sedang dijalankan Kementerian Koperasi dan UKM RI (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Khusus di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa bisa bergabung di KOPMA (Koperasi Mahasiswa) untuk menyalurkan minta bisnisnya dengan sesama mahasiswa yang mempunyai misi yang sama. Syukur-syukur bila sarjana nanti, bisa menjadi pebisnis handal, bermodalkan bekal ilmu bisnis yang sudah didapatkan di sini.


KOPMA Universitas Hasanuddin, tempat saya kuliah dulu (sumber gambar: Kopma UNHAS)

Anak muda juga bisa menjadi influencer dalam menyukseskan program Rebranding Koperasi di kalangan generasi millenial, dengan mengajak teman-temannya bergabung menjadi anggota Koperasi, agar gaung Koperasi Indonesia bisa terus lestari di bumi Ibu Pertiwi yang kita cintai bersama ini.

Mari Viralkan Rebranding Koperasi untuk Generasi Muda Melalui Media Sosial

Ketidakpahaman dan ketidaktertarikan anak muda terhadap koperasi menjadi inti masalah yang melahirkan Rebranding Koperasi sebagai langkah konkret untuk lebih mendekatkan diri ke kalangan millenial.

Sesuai namanya, konsep Rebranding Koperasi bertujuan untuk melahirkan kembali Koperasi dengan image yang lebih fresh dan sesuai dengan perkembangan jaman di era sekarang. Dengan langkah ini, Koperasi diharapkan mampu menjadi bunglon yang supel, bisa bergaul dan menyesuaikan diri dengan siapa saja, mampu menjangkau dan memberi pengaruh positif pada siapa saja, tanpa terbatas usia dan latar belakang apapun, tak terkecuali generasi muda. Mari segera tinggalkan stigma Koperasi sebagai barang jadul, kuno, atau ketinggalan jaman yang selama ini mungkin melekat di benak kita!


Sosial media menawarkan solusi sekaligus senjata ampuh untuk menggiatkan Rebranding Koperasi ke kalangan generasi millenial (uukoperasi.blogspot.co.id dan hipwee.com)


Salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk menggiatkan Rebranding Koperasi di era digital ini adalah dengan memanfaatkan media sosial sebagai sebuah sarana untuk menarik perhatian generasi millenial untuk berkoperasi. Tanamkan manfaat koperasi sebagai barang kekinian yang bisa mencerahkan masa depan, sekaligus wadah belajar bisnis dengan penerapan prinsip keadilan yang berarah pada kesejahteraan.

Mengapa penting memaksimalkan penggunaan Media Sosial untuk Rebranding Koperasi? Berikut alasannya:

  • Media Sosial menjangkau lebih banyak orang
  • Perubahan behaviour masyarakat, di mana media sosial menjadi bahan pertimbangan untuk membeli, mengggunakan, atau mengonsumsi suatu produk
  • Media sosial sebagai sarana yang tepat untuk interaksi antara calon konsumen dengan penjual dan produknya.
  • Masyarakat sekarang ini cenderung menjadikan media sosial sebagai sumber informasi dan data
Sosial media memudahkan banyak pekerjaan, menjangkau lebih banyak orang di berbagai belahan dunia (sumber gambar: okezone.com)

Media sosial saat ini menjadi senjata paling ampuh untuk menarik minat generasi millenial. Jika di dunia nyata, generasi millenial punya Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk menandai kependudukannya sebagai warga yang bermukim di suatu negara, maka akun media sosial menjadi representasi identitas sekaligus eksistensi mereka sebagai netizen, penghuni dunia maya.

Seperti yang dibahas di awal, di mana generasi millenial senang mencari testimonial di sosial media sebelum membeli produk kemudian lebih memilih berbelanja secara online ketimbang repot-repot mencari barang di mall atau supermarket, dan juga tertarik dengan brand yang mendukung kegiatan sosial. Tujuannya, jelas.. untuk berbelanja sekaligus memperluas jaringan pertemanan.

Strategi Menggaet Generasi Millenial untuk Berkoperasi

Oke.. selanjutnya, menurut Billy Boen (Founder & CEO Young on Top: GDILab.com), "Manfaat medsos adalah untuk meningkatkan jangkauan dan exposure (brand awareness), berinteraksi dengan followers (engagement), dan memberikan solusi kepada follower (selling)."

Hal ini juga bisa diterapkan jika ingin menggiatkan Rebranding Koperasi. Pertama-tama, mendekati, menawarkan manfaat, dan memberi solusi tentang Rebranding Koperasi kepada anak muda, sehingga akan timbul chemistry dan loyalitas terhadap koperasi itu sendiri.


Sebelum mulai menebar konten positif tentang Koperasi via Medsos, pahami dulu strategi untuk meningkatkan daya saing Koperasi dan UKM pada gambar berikut. (sumber: instagram @kemenkopukm)

Nah.. untuk memikat hati generasi millenial di media sosial, ada tips-tips yang bisa diterapkan, di antaranya:
  1. Aktif post, like, dan comment di media sosial
  2. Merespon setiap pertanyaan, kritik, dan saran dengan cepat
  3. Hindari melakukan promosi terus-menerus tanpa jeda, karena akan berpotensi dianggap spam dan beresiko di-mute atau di-unfollow
  4. Membuat konten yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti motivational quotes atau daily tips and trick.
"Dengan memanfaatkan sosial media, maka hambatan jarak, ruang dan waktu, serta harga barang bisa tereliminir..", Agus Muharram (Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia)

Generasi AMPUH (Anak Muda Punya Usaha)

Satu hal yang juga wajib diketahui oleh generasi millenial, terutama yang ingin mandiri dan sukses secara finansial di usia muda bersama Koperasi adalah diciptakannya Generasi Anak Muda Punya Usaha (AMPUH) oleh Pemerintah. Dalam hal ini, Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia menargetkan pencapaian persentase angka ideal jumlah wirausaha sebesar 2% melalui 14 Program Pelatihan Kewirausahaan. Dari sini, pemerintah telah menargetkan lahirnya 44.427 Wirausaha baru akan lahir setelah mengikuti pelatihan yang diadakan di daerah-daerah di seluruh Indonesia.


Program Generasi AMPUH, bentukan Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Nah.. Generasi Milenial.. What are you waiting for? Segera cari tahu lebih banyak lagi keuntungan yang bisa didapatkan dengan aktif berpartisipasi menggiatkan Koperasi.. Rebranding Koperasi ini memang ditujukan untuk kamu yang berpikiran segar, kreatif, inovatif, berdaya saing untuk maju dan sukses di usia muda bersama Koperasi..

Jangan lupa, selalu manfaatkan media sosial untuk menebar hal-hal positif yaa..

***

Referensi:
  • "Koperasi dan UMKM sebagai Fondasi Perekonomian Indonesia", karangan M. Azrul Tanjung, Terbitan Erlangga, Tahun 2017
  • Sosial Media Kementerian Koperasi dan UKM (twitter @kemenkopukm dan instagram @kemenkopukm)

***

Siapa Bilang Koperasi Itu Jadul?

Dear, Teman-teman..

Saat mendengar kata koperasi, apa yang terlintas di benak kita? Mungkin sebagian dari kita ada yang sudah familiar dengan istilah Koperasi, termasuk saya yang sejak sekolah di bangku SD bahkan sampai kuliah di kampus dulu selalu berhubungan dengan koperasi bila ingin membeli seragam atau fotokopi buku dan soal ujian.


Ilustrasi Koperasi Indonesia (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Saat belum pensiun pun, ibuku sering sekali berbelanja kebutuhan sehari-hari di koperasi kantornya.. Pikir saya ketika itu, koperasi sama dengan toko, namun dimiliki oleh satu instansi, sehingga modal dan keuntungannya pun menjadi milik instansi tersebut. Namun, setelah ditelaah lebih jauh lagi, fungsi koperasi lebih dari itu.. Mari kita simak petikan Bung Hatta berikut:



"Bila perekonomian Indonesia dapat diibaratkan sebagai kebun, maka koperasi adalah pohon-pohon yang tumbuh di dalam kebun tersebut, yaitu siap dipetik buahnya oleh seluruh rakyat Indonesia." (Bung Hatta)


Moh. Hatta (Bapak Koperasi Indonesia), sumber foto: kompas.com

Berkaca dari kata-kata sang proklamator di atas, jelas tersirat bahwa koperasi diibaratkan sebagai "pohon" yang buahnya dapat dipetik dan dinikmati untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Tak hanya itu saja, dengan rindangnya, pohon itu bahkan bisa meneduhkan, lalu dengan suplai oksigen yang kita hirup darinya, kita bisa bernafas dengan normal. Lebih jelasnya lagi, koperasi merupakan bagian internal dan pelaku strategis dari sistem ekonomi nasional dan kerakyatan, serta sebagai wadah pencerdasan anggota dan masyarakat.


Koperasi adalah sebuah badan hukum atau organisasi ekonomi yang beranggotakan (dimiliki dan dioperasikan) perorangan atau badan hukum, menganut prinsip ekonomi kerakyatan berazas kekeluargaan, dan bertujuan bukan untk mengejar laba setinggi-tingginya, namun untuk mensejahterakan (memberi pelayanan ekonomi/ manfaat/ benefit), di mana setiap anggotanya memiliki tugas, hak suara, dan tanggung jawab yang sama dalam pengambilan keputusan. Anggota koperasi memperoleh bagian sisa hasil usaha, sesuai transaksi usaha masing-masing anggota.


Perlu kita ketahui bersama, Koperasi berjalan dengan didasari landasan Pancasila dan UUD 1945, untuk secara konsisten dan berkelanjutan menjalankan peranan dan fungsinya dalam membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggotanya, berperan aktif meningkatkan kuakitas kehidupan manusia dan masyarakat, memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional, mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional.


Koperasi merangkul rakyat dari segala profesi untuk bersama-sama mengejar kesejahteraan (ilustrasi republika.com)


Wah.. wah.. bila peranannya saja sudah sevital itu, seharusnya Koperasi bisa terus akrab sebagai sahabat kehidupan yang serupa bunglon, ia mampu bertransformasi melintasi segala celah penjuru jaman.. Namun, di era modernisasi ini yang melibatkan generasi millenial sebagai pelaku utama dalam bersosial, masihkah Koperasi ada di hati?

Simak juga artikel saya Viralkan Rebranding Koperasi Via Medsos yang spesifik membahas pendekatan konkret untuk sosialisasi Koperasi kepada Generasi Millenial di Era Digital ini.

Oke teman-teman.. sebelum membahas hal itu lebih jauh, mari kita intip dulu sejarah Koperasi untuk menyegarkan lagi ingatan kita tentang
lembaga yang identik dengan prinsip kebersamaan yang mengedepankan kesejahteraan anggotanya, sebagai wadah peningkatan taraf hidup dan daya saing di lingkungannya.

Sejarah Gerakan Koperasi di Indonesia

Kelahiran Koperasi di Indonesia dipelopori oleh Raden Aria Wiriaatmaja, seorang patih di Karasidenan Purwokerto pada tanggal 16 Desember 1895, ditandai dengan dirintisnya sebuah bank simpanan (Hulp en Spaarbank), yaitu De Purwokertosche Hulp en Spaarbank der Irlansdche (Bank Bantuan dan Simpanan khusus pegawai di Purwokerto), dengan tujuan untuk membantu mengatasi ekonomi kaum priayi (pegawai negeri saat itu) yang terjerat utang dari para lintah darat (rentenir).


Raden Aria Wiriaatmaja, tokoh Pencetus lahirnya koperasi di Indonesia (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Pada saat itu, memang kapitalisme dan imperialisme tumbuh seakan membodohi rakyat. 
Serupa dengan kondisi yang dihadapi Robert Owen (Bapak Koperasi Dunia, 1771-1858) pada masa Revolusi Industri, melahirkan koperasi sebagai wujud perlawanan kaum buruh atas ketidakadilan kaum kapitalis. 

Seiring perjalanannya, bank tersebut juga membantu petani dan pegawai kecil dengan mengajak para pegawai pemerintah menabung ke Bank untuk dijadikan pinjaman kepada nasabah yang memerlukan, dengan bunga relatif lebih rendah ketimbang di rentenir. Bank ini kemudian berganti nama menjadi Bank Priyayi di tahun 1986, kemudian berganti lagi menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang kita kenal hingga saat ini.

Nah.. terus kenapa keberadaan bank ini disebut-sebut sebagai cikal-bakal lahirnya koperasi? Alasannya, karena bank inilah yang diketahui pertama kali menerapkan prinsip kebersamaan, rasa tolong-menolong, adil dan sejahtera secara beriringan yang merupakan nyawa koperasi.


Pusat Koperasi Tasikmalaya Tempo Doeloe (sumber: www.tugassekolah.com)


Seiring waktu, perkembangan koperasi di Indonesia sangat bergantung pada kondisi politik atau pemerintah yang berkuasa saat itu. Baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, bahkan saat Indonesia Merdeka.

Pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia, sekaligus membentuk Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya.


Gedung Kooperasi Batik Budi Tresno Tempo Doeloe (sumber: tugassekolah.com)


Selanjutnya, Indonesia mengenal sosok proklamator Mohammad Hatta sebagai Bapak Koperasi. Beliau mengatakan bahwa tujuan koperasi yang sebenarnya bukan mencari laba atau keuntungan, namun bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bersama anggota koperasi.

Bung Hatta lalu mengusulkan didirikannya 3 jenis koperasi di Indonesia, yaitu:


  1. Koperasi Konsumsi, khusus melayani kebutuhan kaum buruh dan pegawai.
  2. Koperasi Produksi yang merupakan wadah kaum petani (termasuk peternak atau nelayan).
  3. Koperasi Kredit, khusus melayani pedagang kecil dan pengusaha kecil guna memenuhi kebutuhan modal.

Rebranding Koperasi sebagai Jembatan yang Menghubungkan Sejarah dengan Kaum Millenial

Baiklah.. Sepertinya cukup lengkap ya pembahasan sejarah di atas untuk kita belajar lagi mengenai background Koperasi di Indonesia, supaya kita gak salah kaprah. Oh iya.. menjadi penggiat koperasi masih merupakan ide yang bagus lho untuk diaplikasikan di masa sekarang, tanpa disekat oleh usia, bahkan anak muda pun bisa ikut berpartisipasi menggapai kesejahteraan di usia dini bersama Koperasi.. gimana caranya?


"Generasi millenial yang akan memiliki koperasi di masa depan." (Meliadi Sembiring - Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM)


Ganbaran kehidupan sosial generasi millenial, cenderung berada di dua dunia, nyata dan maya (sumber gambar: myorangehr.com)


Ungkapan di atas (disampaikan pada 27 Oktober di Jakarta, dalam Cooperative Talk "Pemuda dan Rebranding Koperasi di Era Millenial") seharusnya bisa menggugah kepedulian pelaku generasi millenial sebagai juru kunci masa depan bangsa, utamanya generasi muda akan keberlangsungan Koperasi di negeri ini, mengingat Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring mengungkapkan bahwa generasi millenial yang berjumlan 60% dari total jumlah penduduk merupakan bonus demografi yang bisa dijadikan peluang dalam program Rebranding Koperasi, yang bermaksud mengubah atau memperbaharui image Koperasi agar menjadi lebih baik, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai dan prinsip unggulnya.


Generasi Millenial adalah senjata untuk mencapai goals kesejahteraan bangsa melalui pengelolaan dan penyebarluasan info tentang koperasi (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Dengan Rebranding Koperasi ini, diharapkan Koperasi bisa lahir kembali, berkembang dan lestari dengan format yang lebih baik, sebagai produk hasil kreasi kalangan millenial, lebih fresh dan modern. Sudah saatnya kita speak up and action, kompak menggerakkan ekonomi nasional dengan koperasi.


Koperasi Goes to Mall.. terharu melihat kerajinan tangan tradisional Indonesia dipasarkan dengan lebih berkelas

Jika generasi millenial acuh tak acuh, maka sulit untuk Koperasi bisa bertahan di Indonesia. Bukan tak mungkin, Koperasi Indonesia akan berada di ambang kepunahan bila generasi milenial tidak tertarik akan koperasi."Bersiap-siaplah kaum kapitalistik akan menguasai seluruhnya." kata Suroto, seorang pengamat perkoperasian.

Waduh.. ngeri yaa membayangkan kaum kapitalis menjadi raja di perekonomian kita. Makanya nih.. generasi muda selalu dipesankan jangan pernah lupa pada keberhasilan tokoh-tokoh sejarah menyelamatkan nasib bangsa ini. Ingat-ingat lagi, bahwa lahirnya koperasi itu untuk mereposisi kekuatan kapitalisme yang sebelumnya dijalankan kaum-kaum lintah darat. Pastinya kita sebagai generasi muda gak mau kan, terjerumus ke lubang yang sama lagi?


Menteri Koperasi dan UKM, AAGN Puspayoga saat meresmikan penyaluran perdana Kredit Usaha Rakyat (KUR) Koperasi Simpan Pinjam Obor Mas, sekaligus meresmikan mesin ATM di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)


"Rebranding Koperasi harus mampu mereposisi ulang fungsi koperasi sebagai alat untuk menciptakan keadilan, mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, serta sarana mewujudkan masyarakat adil dan makmur", kata Suroto.

Dengan Rebranding Koperasi ini, generasi muda juga diajak untuk paham niat mulia dan ide cemerlang para pencetus koperasi di Indonesia, dalam menyelamatkan nasib bangsa dan rakyat dari keterpurukan ekonomi. Refleksi ini yang akan menjembatani kaum millenial dengan perjalanan historik ekonomi Indonesia.

Masih Berpikiran Koperasi itu Jadul? Kaji Ulang Lagi Deh..

Meski lahir jauh sebelum bangsa ini merdeka, koperasi bukanlah barang jadul atau kuno. Mengapa? Karena prinsip-prinsip kebersamaan dan keadilannya itulah, koperasi muncul sebagai badan usaha yang modern dan futuristik. Jauh berbeda dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cenderung memburu keuntungan bagi pemodal, koperasi justru mengejar kesejahteraan bagi seluruh anggota dan masyarakat sekitarnya.


Bapak Menteri Koperasi dan UKM saat meninjau usaha pengelolaan tembakau di Bojonegoro,sekaligus mengapresiasi Koperasi  Karep yang memiliki sejumlah unit usaha, seperti distributor dan minimarket (sumber: instagram @kemenkopukm)


Di kancah internasional, negara-negara maju seperti Singapura dan Amerika Serikat yang besar-besar itu berbadan hukum koperasi. Namun jangan lupa, di Indonesia juga banyak koperasi besar beraset triliunan rupiah yang lahir dari gerakan komunitas di masyarakat.

Meski begitu, dalam hal teknis, Ketua Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo) Pendi Yusuf mengemukakan niat ini tak lepas dari tantangan berat yang dihadapi Koperasi dalam era millenial.

Koperasi turut menjadi sarana para pengrajin lokal memperkenalkan produknya ke kancah internasional

"Pemikiran generasi millenial masih cenderung feodal dan kolonial, dengan gaya bisnis konvensional. Oleh karena itu, kita harus jitu menentukan arah dan strategi agar Rebranding Koperasi sukses tertanam di kalangan generasi milenial", ungkap Pendi.

Untuk menerapkan Rebranding Koperasi di kalangan generasi milenial, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM harus mampu mengarahkan media sosial secara efektif, terarah, dan terukur sebagai sarana yang pas untuk memviralkan good news seputar koperasi ke generasi millenial.


salah satu produk tas UMKM berbadan Koperasi.. cantik yaa 😊 (sumber: instagram @kemenkopukm)

Selain menyebarkan virus positif Rebranding Koperasi ke generasi millenial, sosial media juga dapat menjadi wadah untuk memasarkan produk-produk Koperasi secara online. Selain sosial media, ada e-commerce yang semakin mempermudah akses untuk menjangkau Koperasi dan UKM. Pelaku usaha pun sekarang sudah banyak yang sadar bahwa bukan jamannya lagi berdiam diri dengan direct selling system. Memperluas jaringan dan temukan pelanggan di dunia maya adalah sebuah langkah jitu yang semakin memantapkan branding koperasi sebagai suatu badan yang up to date, gak ketinggalan jaman.


Kreativitas pelaku UMKM pun merambah dunia kuliner, membuat produk koperasi makin beragam dan menarik untuk dilirik anak millenial (sumber: instagram @kemenkopukm)


Jika dikelola dan dikembangkan dengan baik, koperasi kelak akan mampu menjawab tantangan kebangsaan sebagai sebuah sistem yang modern. Di sinilah, peran aktif dan kesadaran generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa yang gemar berorganisasi dan senang bersosial media untuk menyukseskan Rebranding Koperasi sangat diperlukan, guna menyelamatkan masa depan Indonesia di tangan generasi millenial.


Berbagai lukisan turut dipajang di gerai Koperasi Modern


***

Terima Kasih..
Semoga Bermanfaat..
Silahkan simak juga artikel saya Viralkan Rebranding Koperasi Via Medsos yang spesifik membahas pendekatan konkret untuk sosialisasi Koperasi kepada Generasi Millenial di Era Digital ini.

***
"Koperasi menjadi Soko Guru Ekonomi Indonesia dalam rangka pemberdayaan ekonomi umat yang menghilangkan kesenjangan antara pengusaha besar, menengah dan kecil, sehingga kekuatan ekonomi nasional kita tidak akan tergoyahkan oleh berbagai pengaruh global." (K.H.Ma'ruf Amin - Ketua Majelis Ulama Indonesia)

Referensi:

  • "Koperasi dan UMKM sebagai Fondasi Perekonomian Indonesia", karangan M. Azrul Tanjung, Terbitan Erlangga, Tahun 2017
  • Sosial Media Kementerian Koperasi dan UKM (twitter @kemenkopukm dan instagram @kemenkopukm)

***

Selasa, 15 Mei 2018

Pertolongan Pertama pada Luka Bakar

"Anda pernah mengalami luka bakar?"



Salep luka bakar "MEBO", produksi PT. Combiphar, satu solusi untuk penyembuhan luka bakar

Saya ingat sekali pengalaman yang saya rasakan ketika kecil dulu, kaki saya, tepatnya lutut bagian belakang, tanpa disengaja menyentuh knalpot motor milik om saya, mengakibatkan luka yang sakitnya minta ampun (dan sampai saat ini bekas lukanya masih ada).. Rasanya mau nangis, tapi saya tahan.. Saat itu juga, saya mencari mama untuk meminta pertolongan, karena kondisi kulit saya saat itu sudah melepuh dan terkelupas.


Luka bakar (ringan atau berat) tidak boleh dianggap remeh, karena bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, termasuk saat melakukan rutinitas sehari-hari, seperti memasak. Resiko yang diakibatkan luka bakar bisa berakibat fatal. Sudah saatnya kita sadar untuk berhati-hati, juga membekali diri dengan pengetahuan tentang cara penanggulangan dan pengobatannya.


Definisi Luka Bakar



Ilustrasi Luka Bakar (source: google.co.id)

Luka bakar adalah kerusakan kulit yang sering disebabkan oleh panas dan bisa sangat menyakitkan bagi penderitanya, hingga menyebabkan kulit memerah dan mengelupas, bengkak, luka melepuh, bahkan hangus. Lebih parah lagi, luka bakar bisa menimbulkan kerusakan pada bagian tubuh lain selain kulit, seperti otot, pembuluh darah, saraf, paru-paru, dan mata.

Ada banyak hal yang dapat memicu luka bakar, diantaranya benda panas (api, uap, cairan atau padatan), listrik (berasal dari arus listrik atau petir), benda bersuhu dingin, sinar matahari, gesekan dengan permukaan kasar dan keras, bahan kimia, radiasi, dll. (source: alodokter.com)


Fakta Luka Bakar


Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat luka bakar mengakibatkan 195.000 jiwa meninggal dunia setiap tahun.


Menurut Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan yang dirilis pada tahun 2013, luka bakar berada pada urutan keenam penyebab cedera tidak disengaja (unintentional injury) setelah jatuh, sepeda motor, benda tajam/ tumpul, transportasi darat lain, dan kejatuhan dengan tingkat prevalensi 0,7% dari jumlah penduduk Indonesia.


Riset Kementerian Kesehatan ini juga menekankan bahwa kelompok umur yang paling rentan terkena luka bakar adalah anak-anak usia 1-4 tahun, dengan tingkat prevalensi mencapai 1,5%. Fakta ini juga diperkuat oleh data riset epidemiologi sejumlah dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta yang mengungkap bahwa pada tahun 2013-2015, sebanyak 108 pasien (82,3%) luka bakar adalah kelompok usia anak-anak (pediatric group) yang berusia 1-4 tahun.


Pentingnya Edukasi tentang Luka Bakar kepada Masyarakat


Fakta di atas sewajarnya menyadarkan kita, bahwa sudah saatnya kita sadar akan perlunya membekali diri dengan pemahaman tentang luka bakar, pertolongan pertama dalam penanganan luka bakar, dan pengobatan yang tepat 
agar resiko yang mungkin terjadi dapat diminimalisir.


Salah satu cara yang bisa kita terapkan untuk menghindari resiko luka bakar adalah dengan berwaspada sedini mungkin terhadap hal-hal yang berpotensi memicu timbulnya luka bakar, terutama pada anak-anak, antara lain dengan cara:

  • Mengajari anak untuk tidak bermain di wilayah dapur, karena banyak peralatan atau bahan-bahan di dapur yang bisa menimbulkan luka bakar.
  • Mengupayakan untuk menyetrika di atas meja yang cukup tinggi dan jauh dari jangkauan anak kecil, dan tidak lupa untuk segera mematikan setrika setelah menggunakannya.
  • Simpan dan jauhkan korek api atau peralatan yang dapat menghasilkan api dari jangkauan dan penglihatan anak-anak.
  • Menjauhkan minuman panas dari anak kecil.
  • Ajari anak untuk tidak dekat-dekat dengan knalpot kendaraan yang panas atau kendaraan yang baru dipakai.
  • Memeriksa suhu air yang akan dipakai untuk mandi bayi. Gunakan siku untuk memeriksa tingkat kehangatan air.
  • Beri pengertian pada anak mengenai peralatan dan perlengkapan rumah tangga yang berpotensi menimbulkan luka bakar pada anak, terutama perabotan yang menggunakan arus listrik. (source: alodokter.com)


Combiphar dan PERAPI Gelar Seminar dan Workshop Penanganan Luka Bakar di Manado




Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengenai penanganan luka bakar, Combiphar (perusahaan farmasi yang berfokus pada empat sektor bisnis - Combi Consumer, Combi Health, Combi Nutrition, Combi Bio - dan kini telah bertransformasi menjadi perusahaan consumer healthcare modern yang memproduksi dan memasarkan hampir 200 obat-obatan resep dan obat-obatan bebas berkualitas) bekerjasama dengan PERAPI (Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Indonesia) melaksanakan seminar sekaligus workshop penanganan luka bakar yang diikuti lebih dari 200 orang dokter dan perawat di Manado, Sulawesi Utara.




Event bertajuk "One-Day Symposium and Workshop of Burn and Wound"  ini diselenggarakan hari Sabtu, 12 Mei 2018 ini menghadirkan Ni Ketut Sukartiwi (Senior GM Marketing Women’s Health and Active Day Care Combiphar), Dewinta Hutagaol (Senior GM Corporate Communications and Community Development), dr. Donna Savitri, SpBP-RE

(Sekretaris Jenderal PERAPI), dan dr. Mendy H Oley, SpBP-RE (Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado) sebagai pembicaranya.



Kegiatan ini khusus diadakan sebagai bentuk edukasi kepada para tenaga medis sebagai frontliner of professional healthcare untuk memperluas wawasan dan pemahaman dengan pemberian materi dan informasi terkait penanganan luka bakar dan pemilihan obat yang tepat kepada masyarakat, guna menyembuhkan luka bakar secara optimal dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Sebelumnya acara serupa sudah dilaksanakan di Kupang pada tanggal 28 April 2018 dengan total peserta 86 orang.





“Kasus luka bakar menjadi wewenang dan kompetensi dokter bedah plastik. Namun hal ini belum sejalan dengan kondisi di lapangan dimana keberadaan dokter bedah plastik dan luka bakar terutama di daerah perifer (terpencil) Indonesia masih sangat minim. Umumnya di daerah perifer kasus luka bakar akan ditangani oleh dokter umum terlebih dahulu untuk kemudian dirujuk ke rumah sakit yang memiliki unit luka bakar atau kota yang memiliki dokter bedah plastick,”ujar dr Donna.


“Sinergi berupa edukasi tentang luka bakar dan luka lainnya untuk para dokter umum di Indonesia, antara PERAPI dengan Combiphar diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan, sehingga semakin banyak tenaga medis yang dapat mengaplikasikan ilmunya secara langsung dengan penanganan yang optimal, cepat dan tepat untuk luka bakar dan luka lainnya.", kata Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat PERAPI, dr Donna Savitry, SpBP-RE menyatakan 


VP Consumer Healthcare & Wellness and International Operations Combiphar Weitarsa Hendarto mengaku sangat bersyukur kegiatan seminar dan workshop ini dapat terlaksana dengan baik, sebagai wujud nyata Combiphar untuk menerapkan misi championing a healthy tomorrow dengan memperluas jaringan informasi, terutama bagi para tenaga medis yang memegang peran penting sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan dalam memberikan penanganan tepat bagi pasien darurat luka bakar. "Kami yakin informasi ini juga akan memberikan manfaat bagi masyarakat luas khususnya di wilayah Manado,” kata Weitarsa. 


Atasi Luka Bakar dengan Obat yang Tepat



Dengan seminar kesehatan ini, selain untuk mengedukasi para tenaga medis tentang penanganan luka bakar secara tepat, Combiphar dan PERAPI juga ingin mendorong keluarga Indonesia, terutama para ibu, untuk selalu sedia produk obat khusus luka bakar pada kotak P3K di rumah, sebagai salah satu upaya penyembuhan yang efektif. Salah satu obat luka bakar terpercaya dan telah menjadi pilihan para dokter untuk penanganan luka bakar adalah salep luka bakar "MEBO", produksi Combiphar.

“Dengan makin banyaknya tenaga medis yang memahami penanganan terintegrasi terhadap luka termasuk luka bakar baik ringan hingga tingkat yang lebih serius akan meminimalisir terjadinya risiko tinggi yakni cacat dan kematian. Karenanya, hal ini perlu didukung dengan pemilihan produk perawatan luka yang tepat, dimana yang terpenting adalah terciptanya kondisi moist (lembab) pada area luka untuk menunjang penyembuhan luka yang lebih baik,” kata dr. Mendy H Oley, SpBP-RE dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.

Dalam acara ini, Combiphar juga mendonasikan 100 tube salep obat bakar MEBO secara simbolis kepada RS. Kandou di Manado (diwakili dr. Jan Ngantung, Sp.BP-RE), sebagai bentuk kepeduliannya terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia, terkhusus wilayah Manado dan sekitarnya. “Kami berharap obat ini dapat digunakan dengan baik untuk penanganan pasien di wilayah Manado dan masyarakat dapat merasakan manfaat dari Mebo,” tutup Sukartiwi.



Combiphar donasikan 100 tube salep obat bakar MEBO secara simbolis kepada RS. Kandou di Manado (diwakili dr. Jan Ngantung, Sp.BP-RE)

"MEBO", Salep Luka Bakar Kepercayaan para Dokter



Pada tahun 2006, Combiphar meluncurkan salep luka bakar MEBO (Moist Exposed Burn Oinment) sebagai solusi penanganan luka bakar, dan telah diluncurkan di 73 negara dI dunia melalui Mebo International.

Para praktisi pelayanan kesehatan di Indonesia sudah familiar dengan MEBO, yang diyakini sebagai produk obat pilihan untuk perawatan luka bakar di Indonesia, dan telah dikenal baik pada unit luka bakar di beberapa rumah sakit di Indonesia.


MEBO dapat mempercepat penyembuhan luka, meredakan rasa nyeri, dan menyerap sisa panas pada area luka. MEBO membuat area luka menjadi moist/lembab yang dibutuhkan dalam penyembuhan luka sehingga pemulihan jaringan menjadi lebih cepat dan lebih baik serta meminimalkan potensi terjadinya bekas luka.





Sebagai obat luka bakar, MEBO punya beberapa keunggulan, di antaranya:

  • Memberi suasana lembab (moist) di kulit
  • Membantu meminimalisir bekas luka
  • Komposisinya berasal dari bahan-bahan alami berupa minyak wijen dan beeswax yang dapat membantu menyembuhkan dan meminimalisir luka bakar, tanpa antibiotik kimia

Kandungan Alami Aktif pada "MEBO"


MEBO mengandung bahan-bahan herbal berupa Phellodendri chinensis, Coptidis rhizome, dan Scutellariae radix.



Phellodendri chinensis
Coptidis rhizome
Scutellariae radix

Selain ketiga bahan herbal tersebut, MEBO juga mengandung minyak wijen dan beeswax yang dapat menyerap sisa panas pada area luka bakar, sehingga dapat mengurangi tingkat keparahan luka bakar.




Perlu diketahui bahwa Minyak Wijen mengandung β-sitosterol yang berfungsi memperkecil resiko peradangan pada luka bakar, seperti adanya pembengkakan, kemerahan, gatal, serta meredakan rasa nyeri. Kandungan lipid serta vitamin E dan K berfungsi sebagai sumber nutrisi yang dibutuhkan untuk sel-sel pada kulit serta menunjang pemulihan jaringan, sehingga mengurangi potensi timbulnya bekas luka.







Cara Penggunaan "MEBO"


Oleskan MEBO pada luka dengan ketebalan 1 mm (oles tipis) setiap 4-6 jam. Salep ini akan bersifat kontraindikasi terhadap pasien yang hipersensitif terhadap sesame oil (minyak wijen). Perlu diingat bahwa MEBO hanya digunakan untuk pemakaian luar.





Sebelum mengaplikasikan MEBO, setelah menyingkirkan pakaian atau aksesoris yang menempel di sekitat luka bakar, ingatlah untuk mendinginkan luka bakar terlebih dahulu dengan air biasa selama 20-30 menit sebagai pertolongan pertama. Pastikan tidak mengolesi luka dengan es, air es, krim, atau bahan-bahan berminyak untuk mendinginkan luka bakar, karena tindakan tersebut hanya akan membuat luka semakin parah.

Sebisa mungkin, jaga luka agar tidak tergores atau tersentuh benda lain yang tidak steril. Dudukkan penderita luka bakar pada posisi tegak untuk meminimalisir resiko pembengkakan.

***