Selasa, 15 Mei 2018

Pertolongan Pertama pada Luka Bakar

"Anda pernah mengalami luka bakar?"



Salep luka bakar "MEBO", produksi PT. Combiphar, satu solusi untuk penyembuhan luka bakar

Saya ingat sekali pengalaman yang saya rasakan ketika kecil dulu, kaki saya, tepatnya lutut bagian belakang, tanpa disengaja menyentuh knalpot motor milik om saya, mengakibatkan luka yang sakitnya minta ampun (dan sampai saat ini bekas lukanya masih ada).. Rasanya mau nangis, tapi saya tahan.. Saat itu juga, saya mencari mama untuk meminta pertolongan, karena kondisi kulit saya saat itu sudah melepuh dan terkelupas.


Luka bakar (ringan atau berat) tidak boleh dianggap remeh, karena bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, termasuk saat melakukan rutinitas sehari-hari, seperti memasak. Resiko yang diakibatkan luka bakar bisa berakibat fatal. Sudah saatnya kita sadar untuk berhati-hati, juga membekali diri dengan pengetahuan tentang cara penanggulangan dan pengobatannya.


Definisi Luka Bakar



Ilustrasi Luka Bakar (source: google.co.id)

Luka bakar adalah kerusakan kulit yang sering disebabkan oleh panas dan bisa sangat menyakitkan bagi penderitanya, hingga menyebabkan kulit memerah dan mengelupas, bengkak, luka melepuh, bahkan hangus. Lebih parah lagi, luka bakar bisa menimbulkan kerusakan pada bagian tubuh lain selain kulit, seperti otot, pembuluh darah, saraf, paru-paru, dan mata.

Ada banyak hal yang dapat memicu luka bakar, diantaranya benda panas (api, uap, cairan atau padatan), listrik (berasal dari arus listrik atau petir), benda bersuhu dingin, sinar matahari, gesekan dengan permukaan kasar dan keras, bahan kimia, radiasi, dll. (source: alodokter.com)


Fakta Luka Bakar


Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat luka bakar mengakibatkan 195.000 jiwa meninggal dunia setiap tahun.


Menurut Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan yang dirilis pada tahun 2013, luka bakar berada pada urutan keenam penyebab cedera tidak disengaja (unintentional injury) setelah jatuh, sepeda motor, benda tajam/ tumpul, transportasi darat lain, dan kejatuhan dengan tingkat prevalensi 0,7% dari jumlah penduduk Indonesia.


Riset Kementerian Kesehatan ini juga menekankan bahwa kelompok umur yang paling rentan terkena luka bakar adalah anak-anak usia 1-4 tahun, dengan tingkat prevalensi mencapai 1,5%. Fakta ini juga diperkuat oleh data riset epidemiologi sejumlah dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta yang mengungkap bahwa pada tahun 2013-2015, sebanyak 108 pasien (82,3%) luka bakar adalah kelompok usia anak-anak (pediatric group) yang berusia 1-4 tahun.


Pentingnya Edukasi tentang Luka Bakar kepada Masyarakat


Fakta di atas sewajarnya menyadarkan kita, bahwa sudah saatnya kita sadar akan perlunya membekali diri dengan pemahaman tentang luka bakar, pertolongan pertama dalam penanganan luka bakar, dan pengobatan yang tepat 
agar resiko yang mungkin terjadi dapat diminimalisir.


Salah satu cara yang bisa kita terapkan untuk menghindari resiko luka bakar adalah dengan berwaspada sedini mungkin terhadap hal-hal yang berpotensi memicu timbulnya luka bakar, terutama pada anak-anak, antara lain dengan cara:

  • Mengajari anak untuk tidak bermain di wilayah dapur, karena banyak peralatan atau bahan-bahan di dapur yang bisa menimbulkan luka bakar.
  • Mengupayakan untuk menyetrika di atas meja yang cukup tinggi dan jauh dari jangkauan anak kecil, dan tidak lupa untuk segera mematikan setrika setelah menggunakannya.
  • Simpan dan jauhkan korek api atau peralatan yang dapat menghasilkan api dari jangkauan dan penglihatan anak-anak.
  • Menjauhkan minuman panas dari anak kecil.
  • Ajari anak untuk tidak dekat-dekat dengan knalpot kendaraan yang panas atau kendaraan yang baru dipakai.
  • Memeriksa suhu air yang akan dipakai untuk mandi bayi. Gunakan siku untuk memeriksa tingkat kehangatan air.
  • Beri pengertian pada anak mengenai peralatan dan perlengkapan rumah tangga yang berpotensi menimbulkan luka bakar pada anak, terutama perabotan yang menggunakan arus listrik. (source: alodokter.com)


Combiphar dan PERAPI Gelar Seminar dan Workshop Penanganan Luka Bakar di Manado




Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengenai penanganan luka bakar, Combiphar (perusahaan farmasi yang berfokus pada empat sektor bisnis - Combi Consumer, Combi Health, Combi Nutrition, Combi Bio - dan kini telah bertransformasi menjadi perusahaan consumer healthcare modern yang memproduksi dan memasarkan hampir 200 obat-obatan resep dan obat-obatan bebas berkualitas) bekerjasama dengan PERAPI (Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Indonesia) melaksanakan seminar sekaligus workshop penanganan luka bakar yang diikuti lebih dari 200 orang dokter dan perawat di Manado, Sulawesi Utara.




Event bertajuk "One-Day Symposium and Workshop of Burn and Wound"  ini diselenggarakan hari Sabtu, 12 Mei 2018 ini menghadirkan Ni Ketut Sukartiwi (Senior GM Marketing Women’s Health and Active Day Care Combiphar), Dewinta Hutagaol (Senior GM Corporate Communications and Community Development), dr. Donna Savitri, SpBP-RE

(Sekretaris Jenderal PERAPI), dan dr. Mendy H Oley, SpBP-RE (Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado) sebagai pembicaranya.



Kegiatan ini khusus diadakan sebagai bentuk edukasi kepada para tenaga medis sebagai frontliner of professional healthcare untuk memperluas wawasan dan pemahaman dengan pemberian materi dan informasi terkait penanganan luka bakar dan pemilihan obat yang tepat kepada masyarakat, guna menyembuhkan luka bakar secara optimal dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Sebelumnya acara serupa sudah dilaksanakan di Kupang pada tanggal 28 April 2018 dengan total peserta 86 orang.





“Kasus luka bakar menjadi wewenang dan kompetensi dokter bedah plastik. Namun hal ini belum sejalan dengan kondisi di lapangan dimana keberadaan dokter bedah plastik dan luka bakar terutama di daerah perifer (terpencil) Indonesia masih sangat minim. Umumnya di daerah perifer kasus luka bakar akan ditangani oleh dokter umum terlebih dahulu untuk kemudian dirujuk ke rumah sakit yang memiliki unit luka bakar atau kota yang memiliki dokter bedah plastick,”ujar dr Donna.


“Sinergi berupa edukasi tentang luka bakar dan luka lainnya untuk para dokter umum di Indonesia, antara PERAPI dengan Combiphar diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan, sehingga semakin banyak tenaga medis yang dapat mengaplikasikan ilmunya secara langsung dengan penanganan yang optimal, cepat dan tepat untuk luka bakar dan luka lainnya.", kata Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat PERAPI, dr Donna Savitry, SpBP-RE menyatakan 


VP Consumer Healthcare & Wellness and International Operations Combiphar Weitarsa Hendarto mengaku sangat bersyukur kegiatan seminar dan workshop ini dapat terlaksana dengan baik, sebagai wujud nyata Combiphar untuk menerapkan misi championing a healthy tomorrow dengan memperluas jaringan informasi, terutama bagi para tenaga medis yang memegang peran penting sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan dalam memberikan penanganan tepat bagi pasien darurat luka bakar. "Kami yakin informasi ini juga akan memberikan manfaat bagi masyarakat luas khususnya di wilayah Manado,” kata Weitarsa. 


Atasi Luka Bakar dengan Obat yang Tepat



Dengan seminar kesehatan ini, selain untuk mengedukasi para tenaga medis tentang penanganan luka bakar secara tepat, Combiphar dan PERAPI juga ingin mendorong keluarga Indonesia, terutama para ibu, untuk selalu sedia produk obat khusus luka bakar pada kotak P3K di rumah, sebagai salah satu upaya penyembuhan yang efektif. Salah satu obat luka bakar terpercaya dan telah menjadi pilihan para dokter untuk penanganan luka bakar adalah salep luka bakar "MEBO", produksi Combiphar.

“Dengan makin banyaknya tenaga medis yang memahami penanganan terintegrasi terhadap luka termasuk luka bakar baik ringan hingga tingkat yang lebih serius akan meminimalisir terjadinya risiko tinggi yakni cacat dan kematian. Karenanya, hal ini perlu didukung dengan pemilihan produk perawatan luka yang tepat, dimana yang terpenting adalah terciptanya kondisi moist (lembab) pada area luka untuk menunjang penyembuhan luka yang lebih baik,” kata dr. Mendy H Oley, SpBP-RE dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.

Dalam acara ini, Combiphar juga mendonasikan 100 tube salep obat bakar MEBO secara simbolis kepada RS. Kandou di Manado (diwakili dr. Jan Ngantung, Sp.BP-RE), sebagai bentuk kepeduliannya terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia, terkhusus wilayah Manado dan sekitarnya. “Kami berharap obat ini dapat digunakan dengan baik untuk penanganan pasien di wilayah Manado dan masyarakat dapat merasakan manfaat dari Mebo,” tutup Sukartiwi.



Combiphar donasikan 100 tube salep obat bakar MEBO secara simbolis kepada RS. Kandou di Manado (diwakili dr. Jan Ngantung, Sp.BP-RE)

"MEBO", Salep Luka Bakar Kepercayaan para Dokter



Pada tahun 2006, Combiphar meluncurkan salep luka bakar MEBO (Moist Exposed Burn Oinment) sebagai solusi penanganan luka bakar, dan telah diluncurkan di 73 negara dI dunia melalui Mebo International.

Para praktisi pelayanan kesehatan di Indonesia sudah familiar dengan MEBO, yang diyakini sebagai produk obat pilihan untuk perawatan luka bakar di Indonesia, dan telah dikenal baik pada unit luka bakar di beberapa rumah sakit di Indonesia.


MEBO dapat mempercepat penyembuhan luka, meredakan rasa nyeri, dan menyerap sisa panas pada area luka. MEBO membuat area luka menjadi moist/lembab yang dibutuhkan dalam penyembuhan luka sehingga pemulihan jaringan menjadi lebih cepat dan lebih baik serta meminimalkan potensi terjadinya bekas luka.





Sebagai obat luka bakar, MEBO punya beberapa keunggulan, di antaranya:

  • Memberi suasana lembab (moist) di kulit
  • Membantu meminimalisir bekas luka
  • Komposisinya berasal dari bahan-bahan alami berupa minyak wijen dan beeswax yang dapat membantu menyembuhkan dan meminimalisir luka bakar, tanpa antibiotik kimia

Kandungan Alami Aktif pada "MEBO"


MEBO mengandung bahan-bahan herbal berupa Phellodendri chinensis, Coptidis rhizome, dan Scutellariae radix.



Phellodendri chinensis
Coptidis rhizome
Scutellariae radix

Selain ketiga bahan herbal tersebut, MEBO juga mengandung minyak wijen dan beeswax yang dapat menyerap sisa panas pada area luka bakar, sehingga dapat mengurangi tingkat keparahan luka bakar.




Perlu diketahui bahwa Minyak Wijen mengandung β-sitosterol yang berfungsi memperkecil resiko peradangan pada luka bakar, seperti adanya pembengkakan, kemerahan, gatal, serta meredakan rasa nyeri. Kandungan lipid serta vitamin E dan K berfungsi sebagai sumber nutrisi yang dibutuhkan untuk sel-sel pada kulit serta menunjang pemulihan jaringan, sehingga mengurangi potensi timbulnya bekas luka.







Cara Penggunaan "MEBO"


Oleskan MEBO pada luka dengan ketebalan 1 mm (oles tipis) setiap 4-6 jam. Salep ini akan bersifat kontraindikasi terhadap pasien yang hipersensitif terhadap sesame oil (minyak wijen). Perlu diingat bahwa MEBO hanya digunakan untuk pemakaian luar.





Sebelum mengaplikasikan MEBO, setelah menyingkirkan pakaian atau aksesoris yang menempel di sekitat luka bakar, ingatlah untuk mendinginkan luka bakar terlebih dahulu dengan air biasa selama 20-30 menit sebagai pertolongan pertama. Pastikan tidak mengolesi luka dengan es, air es, krim, atau bahan-bahan berminyak untuk mendinginkan luka bakar, karena tindakan tersebut hanya akan membuat luka semakin parah.

Sebisa mungkin, jaga luka agar tidak tergores atau tersentuh benda lain yang tidak steril. Dudukkan penderita luka bakar pada posisi tegak untuk meminimalisir resiko pembengkakan.

***

15 komentar:

  1. bermanfaat neh artikelnya buat yang pernah atau sedang mengalami luka bakar

    BalasHapus
  2. serem banget mba kena knalpot sakitnya pasti warbiyasah yah

    btw smg pada tau y ttg mebo mba 😁

    BalasHapus
  3. sering banget kassus kena knalpot saat kecil, saya juga pernah, teman main saya juga pernah

    BalasHapus
  4. Penting sekalinya pengetahuan tentang luka bakar

    BalasHapus
  5. Smeoga kegiatan ini tak hanya di Manado tapi di kota lain ya. Dan juga bisa diikuti oleh ibu-ibu seperti kita. Karena buat jaga jaga juga sih

    BalasHapus
  6. Ga kebayang ya sesakit apa kalo sampe kebakar parah gitu. Prnh kena percikan minyak doang, itu sakitnya udh kayak apa.. Sampe takut mau masak. Luka krn knalpot, itu jg seumur idup berbekas yaa. Suamiku beberapa kali kakinya kena knalpot gitu pas msh sekolah. Sampe skr jg msh ada. Kalo orang2 dulu, tiap kita kena luka bakar, psti yg diolesin odol. Pdhl aku prnh baca iti malah memperparah lukanya

    BalasHapus
  7. Anakku tu paling suka man ke dapur, makanya emaknya cerewet banget, gak boleh ke dapur klo gak ada bundaaaaa hehe.
    Wah kudu sedia Mebo juga nih di rumah, buat jaga2 aja.

    BalasHapus
  8. Emang nih salep luka bakar harus siap sedia di rumah, apalagi anakku masih balita, takutnya main api.

    BalasHapus
  9. Terima kasih tipsnya mba, berguna bgt nh mba :)

    BalasHapus
  10. Senoga dengan adanya edukasi seperti ini, bukan hanya para praktisi medis saja tapi masyarakat luas juga bisa menangani luka bakar dengan tepat dan tuntas ya Mba. Jadi dapat meminimalisir terjadinya cacat akibat luka bakar.

    BalasHapus
  11. Wowwww lengkap sekali infonya kakak... iya nih saya mau sedia medo di rumah jaga jaga kena luka bakar

    BalasHapus
  12. Ternyata ga cuma betadine aja yang selalu sedia di p3k tapi juga MEBO ini buat jaga2 yooo.

    BalasHapus
  13. Seruju banget Mbak Prima, penting banget edukasi tentang penanganan luka bakar. Dengan penanganan yang baik seperti menggunakan MEBO ini, bisa mengurangi tingkat keparahan luka bakar. Thank Mbak sharing nya.

    BalasHapus
  14. Makasih infonya mbak, aku jadi yakin mau simpen mebo di rumah, untuk jaga jaga

    BalasHapus
  15. Harus waspada dengan luka bakar bisa bikin bekas parah di kulit, untung ada Mebo ya

    BalasHapus