Senin, 28 Mei 2018

Siapa Bilang Koperasi Itu Jadul?

Dear, Teman-teman..

Saat mendengar kata koperasi, apa yang terlintas di benak kita? Mungkin sebagian dari kita ada yang sudah familiar dengan istilah Koperasi, termasuk saya yang sejak sekolah di bangku SD bahkan sampai kuliah di kampus dulu selalu berhubungan dengan koperasi bila ingin membeli seragam atau fotokopi buku dan soal ujian.


Ilustrasi Koperasi Indonesia (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Saat belum pensiun pun, ibuku sering sekali berbelanja kebutuhan sehari-hari di koperasi kantornya.. Pikir saya ketika itu, koperasi sama dengan toko, namun dimiliki oleh satu instansi, sehingga modal dan keuntungannya pun menjadi milik instansi tersebut. Namun, setelah ditelaah lebih jauh lagi, fungsi koperasi lebih dari itu.. Mari kita simak petikan Bung Hatta berikut:



"Bila perekonomian Indonesia dapat diibaratkan sebagai kebun, maka koperasi adalah pohon-pohon yang tumbuh di dalam kebun tersebut, yaitu siap dipetik buahnya oleh seluruh rakyat Indonesia." (Bung Hatta)


Moh. Hatta (Bapak Koperasi Indonesia), sumber foto: kompas.com

Berkaca dari kata-kata sang proklamator di atas, jelas tersirat bahwa koperasi diibaratkan sebagai "pohon" yang buahnya dapat dipetik dan dinikmati untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Tak hanya itu saja, dengan rindangnya, pohon itu bahkan bisa meneduhkan, lalu dengan suplai oksigen yang kita hirup darinya, kita bisa bernafas dengan normal. Lebih jelasnya lagi, koperasi merupakan bagian internal dan pelaku strategis dari sistem ekonomi nasional dan kerakyatan, serta sebagai wadah pencerdasan anggota dan masyarakat.


Koperasi adalah sebuah badan hukum atau organisasi ekonomi yang beranggotakan (dimiliki dan dioperasikan) perorangan atau badan hukum, menganut prinsip ekonomi kerakyatan berazas kekeluargaan, dan bertujuan bukan untk mengejar laba setinggi-tingginya, namun untuk mensejahterakan (memberi pelayanan ekonomi/ manfaat/ benefit), di mana setiap anggotanya memiliki tugas, hak suara, dan tanggung jawab yang sama dalam pengambilan keputusan. Anggota koperasi memperoleh bagian sisa hasil usaha, sesuai transaksi usaha masing-masing anggota.


Perlu kita ketahui bersama, Koperasi berjalan dengan didasari landasan Pancasila dan UUD 1945, untuk secara konsisten dan berkelanjutan menjalankan peranan dan fungsinya dalam membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggotanya, berperan aktif meningkatkan kuakitas kehidupan manusia dan masyarakat, memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional, mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional.


Koperasi merangkul rakyat dari segala profesi untuk bersama-sama mengejar kesejahteraan (ilustrasi republika.com)


Wah.. wah.. bila peranannya saja sudah sevital itu, seharusnya Koperasi bisa terus akrab sebagai sahabat kehidupan yang serupa bunglon, ia mampu bertransformasi melintasi segala celah penjuru jaman.. Namun, di era modernisasi ini yang melibatkan generasi millenial sebagai pelaku utama dalam bersosial, masihkah Koperasi ada di hati?

Simak juga artikel saya Viralkan Rebranding Koperasi Via Medsos yang spesifik membahas pendekatan konkret untuk sosialisasi Koperasi kepada Generasi Millenial di Era Digital ini.

Oke teman-teman.. sebelum membahas hal itu lebih jauh, mari kita intip dulu sejarah Koperasi untuk menyegarkan lagi ingatan kita tentang
lembaga yang identik dengan prinsip kebersamaan yang mengedepankan kesejahteraan anggotanya, sebagai wadah peningkatan taraf hidup dan daya saing di lingkungannya.

Sejarah Gerakan Koperasi di Indonesia

Kelahiran Koperasi di Indonesia dipelopori oleh Raden Aria Wiriaatmaja, seorang patih di Karasidenan Purwokerto pada tanggal 16 Desember 1895, ditandai dengan dirintisnya sebuah bank simpanan (Hulp en Spaarbank), yaitu De Purwokertosche Hulp en Spaarbank der Irlansdche (Bank Bantuan dan Simpanan khusus pegawai di Purwokerto), dengan tujuan untuk membantu mengatasi ekonomi kaum priayi (pegawai negeri saat itu) yang terjerat utang dari para lintah darat (rentenir).


Raden Aria Wiriaatmaja, tokoh Pencetus lahirnya koperasi di Indonesia (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Pada saat itu, memang kapitalisme dan imperialisme tumbuh seakan membodohi rakyat. 
Serupa dengan kondisi yang dihadapi Robert Owen (Bapak Koperasi Dunia, 1771-1858) pada masa Revolusi Industri, melahirkan koperasi sebagai wujud perlawanan kaum buruh atas ketidakadilan kaum kapitalis. 

Seiring perjalanannya, bank tersebut juga membantu petani dan pegawai kecil dengan mengajak para pegawai pemerintah menabung ke Bank untuk dijadikan pinjaman kepada nasabah yang memerlukan, dengan bunga relatif lebih rendah ketimbang di rentenir. Bank ini kemudian berganti nama menjadi Bank Priyayi di tahun 1986, kemudian berganti lagi menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang kita kenal hingga saat ini.

Nah.. terus kenapa keberadaan bank ini disebut-sebut sebagai cikal-bakal lahirnya koperasi? Alasannya, karena bank inilah yang diketahui pertama kali menerapkan prinsip kebersamaan, rasa tolong-menolong, adil dan sejahtera secara beriringan yang merupakan nyawa koperasi.


Pusat Koperasi Tasikmalaya Tempo Doeloe (sumber: www.tugassekolah.com)


Seiring waktu, perkembangan koperasi di Indonesia sangat bergantung pada kondisi politik atau pemerintah yang berkuasa saat itu. Baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, bahkan saat Indonesia Merdeka.

Pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia, sekaligus membentuk Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya.


Gedung Kooperasi Batik Budi Tresno Tempo Doeloe (sumber: tugassekolah.com)


Selanjutnya, Indonesia mengenal sosok proklamator Mohammad Hatta sebagai Bapak Koperasi. Beliau mengatakan bahwa tujuan koperasi yang sebenarnya bukan mencari laba atau keuntungan, namun bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bersama anggota koperasi.

Bung Hatta lalu mengusulkan didirikannya 3 jenis koperasi di Indonesia, yaitu:


  1. Koperasi Konsumsi, khusus melayani kebutuhan kaum buruh dan pegawai.
  2. Koperasi Produksi yang merupakan wadah kaum petani (termasuk peternak atau nelayan).
  3. Koperasi Kredit, khusus melayani pedagang kecil dan pengusaha kecil guna memenuhi kebutuhan modal.

Rebranding Koperasi sebagai Jembatan yang Menghubungkan Sejarah dengan Kaum Millenial

Baiklah.. Sepertinya cukup lengkap ya pembahasan sejarah di atas untuk kita belajar lagi mengenai background Koperasi di Indonesia, supaya kita gak salah kaprah. Oh iya.. menjadi penggiat koperasi masih merupakan ide yang bagus lho untuk diaplikasikan di masa sekarang, tanpa disekat oleh usia, bahkan anak muda pun bisa ikut berpartisipasi menggapai kesejahteraan di usia dini bersama Koperasi.. gimana caranya?


"Generasi millenial yang akan memiliki koperasi di masa depan." (Meliadi Sembiring - Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM)


Ganbaran kehidupan sosial generasi millenial, cenderung berada di dua dunia, nyata dan maya (sumber gambar: myorangehr.com)


Ungkapan di atas (disampaikan pada 27 Oktober di Jakarta, dalam Cooperative Talk "Pemuda dan Rebranding Koperasi di Era Millenial") seharusnya bisa menggugah kepedulian pelaku generasi millenial sebagai juru kunci masa depan bangsa, utamanya generasi muda akan keberlangsungan Koperasi di negeri ini, mengingat Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring mengungkapkan bahwa generasi millenial yang berjumlan 60% dari total jumlah penduduk merupakan bonus demografi yang bisa dijadikan peluang dalam program Rebranding Koperasi, yang bermaksud mengubah atau memperbaharui image Koperasi agar menjadi lebih baik, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai dan prinsip unggulnya.


Generasi Millenial adalah senjata untuk mencapai goals kesejahteraan bangsa melalui pengelolaan dan penyebarluasan info tentang koperasi (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)

Dengan Rebranding Koperasi ini, diharapkan Koperasi bisa lahir kembali, berkembang dan lestari dengan format yang lebih baik, sebagai produk hasil kreasi kalangan millenial, lebih fresh dan modern. Sudah saatnya kita speak up and action, kompak menggerakkan ekonomi nasional dengan koperasi.


Koperasi Goes to Mall.. terharu melihat kerajinan tangan tradisional Indonesia dipasarkan dengan lebih berkelas

Jika generasi millenial acuh tak acuh, maka sulit untuk Koperasi bisa bertahan di Indonesia. Bukan tak mungkin, Koperasi Indonesia akan berada di ambang kepunahan bila generasi milenial tidak tertarik akan koperasi."Bersiap-siaplah kaum kapitalistik akan menguasai seluruhnya." kata Suroto, seorang pengamat perkoperasian.

Waduh.. ngeri yaa membayangkan kaum kapitalis menjadi raja di perekonomian kita. Makanya nih.. generasi muda selalu dipesankan jangan pernah lupa pada keberhasilan tokoh-tokoh sejarah menyelamatkan nasib bangsa ini. Ingat-ingat lagi, bahwa lahirnya koperasi itu untuk mereposisi kekuatan kapitalisme yang sebelumnya dijalankan kaum-kaum lintah darat. Pastinya kita sebagai generasi muda gak mau kan, terjerumus ke lubang yang sama lagi?


Menteri Koperasi dan UKM, AAGN Puspayoga saat meresmikan penyaluran perdana Kredit Usaha Rakyat (KUR) Koperasi Simpan Pinjam Obor Mas, sekaligus meresmikan mesin ATM di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT (sumber gambar: instagram @kemenkopukm)


"Rebranding Koperasi harus mampu mereposisi ulang fungsi koperasi sebagai alat untuk menciptakan keadilan, mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, serta sarana mewujudkan masyarakat adil dan makmur", kata Suroto.

Dengan Rebranding Koperasi ini, generasi muda juga diajak untuk paham niat mulia dan ide cemerlang para pencetus koperasi di Indonesia, dalam menyelamatkan nasib bangsa dan rakyat dari keterpurukan ekonomi. Refleksi ini yang akan menjembatani kaum millenial dengan perjalanan historik ekonomi Indonesia.

Masih Berpikiran Koperasi itu Jadul? Kaji Ulang Lagi Deh..

Meski lahir jauh sebelum bangsa ini merdeka, koperasi bukanlah barang jadul atau kuno. Mengapa? Karena prinsip-prinsip kebersamaan dan keadilannya itulah, koperasi muncul sebagai badan usaha yang modern dan futuristik. Jauh berbeda dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cenderung memburu keuntungan bagi pemodal, koperasi justru mengejar kesejahteraan bagi seluruh anggota dan masyarakat sekitarnya.


Bapak Menteri Koperasi dan UKM saat meninjau usaha pengelolaan tembakau di Bojonegoro,sekaligus mengapresiasi Koperasi  Karep yang memiliki sejumlah unit usaha, seperti distributor dan minimarket (sumber: instagram @kemenkopukm)


Di kancah internasional, negara-negara maju seperti Singapura dan Amerika Serikat yang besar-besar itu berbadan hukum koperasi. Namun jangan lupa, di Indonesia juga banyak koperasi besar beraset triliunan rupiah yang lahir dari gerakan komunitas di masyarakat.

Meski begitu, dalam hal teknis, Ketua Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo) Pendi Yusuf mengemukakan niat ini tak lepas dari tantangan berat yang dihadapi Koperasi dalam era millenial.

Koperasi turut menjadi sarana para pengrajin lokal memperkenalkan produknya ke kancah internasional

"Pemikiran generasi millenial masih cenderung feodal dan kolonial, dengan gaya bisnis konvensional. Oleh karena itu, kita harus jitu menentukan arah dan strategi agar Rebranding Koperasi sukses tertanam di kalangan generasi milenial", ungkap Pendi.

Untuk menerapkan Rebranding Koperasi di kalangan generasi milenial, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM harus mampu mengarahkan media sosial secara efektif, terarah, dan terukur sebagai sarana yang pas untuk memviralkan good news seputar koperasi ke generasi millenial.


salah satu produk tas UMKM berbadan Koperasi.. cantik yaa 😊 (sumber: instagram @kemenkopukm)

Selain menyebarkan virus positif Rebranding Koperasi ke generasi millenial, sosial media juga dapat menjadi wadah untuk memasarkan produk-produk Koperasi secara online. Selain sosial media, ada e-commerce yang semakin mempermudah akses untuk menjangkau Koperasi dan UKM. Pelaku usaha pun sekarang sudah banyak yang sadar bahwa bukan jamannya lagi berdiam diri dengan direct selling system. Memperluas jaringan dan temukan pelanggan di dunia maya adalah sebuah langkah jitu yang semakin memantapkan branding koperasi sebagai suatu badan yang up to date, gak ketinggalan jaman.


Kreativitas pelaku UMKM pun merambah dunia kuliner, membuat produk koperasi makin beragam dan menarik untuk dilirik anak millenial (sumber: instagram @kemenkopukm)


Jika dikelola dan dikembangkan dengan baik, koperasi kelak akan mampu menjawab tantangan kebangsaan sebagai sebuah sistem yang modern. Di sinilah, peran aktif dan kesadaran generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa yang gemar berorganisasi dan senang bersosial media untuk menyukseskan Rebranding Koperasi sangat diperlukan, guna menyelamatkan masa depan Indonesia di tangan generasi millenial.


Berbagai lukisan turut dipajang di gerai Koperasi Modern


***

Terima Kasih..
Semoga Bermanfaat..
Silahkan simak juga artikel saya Viralkan Rebranding Koperasi Via Medsos yang spesifik membahas pendekatan konkret untuk sosialisasi Koperasi kepada Generasi Millenial di Era Digital ini.

***
"Koperasi menjadi Soko Guru Ekonomi Indonesia dalam rangka pemberdayaan ekonomi umat yang menghilangkan kesenjangan antara pengusaha besar, menengah dan kecil, sehingga kekuatan ekonomi nasional kita tidak akan tergoyahkan oleh berbagai pengaruh global." (K.H.Ma'ruf Amin - Ketua Majelis Ulama Indonesia)

Referensi:

  • "Koperasi dan UMKM sebagai Fondasi Perekonomian Indonesia", karangan M. Azrul Tanjung, Terbitan Erlangga, Tahun 2017
  • Sosial Media Kementerian Koperasi dan UKM (twitter @kemenkopukm dan instagram @kemenkopukm)

***

19 komentar:

  1. Amiin bila Koperasi sesuai dengan perkembangan zaman dan gaya hidup anak zaman sekarang. Bersama Koperasi bisa makmur

    BalasHapus
  2. Koperasi ini banyak manfaatnya.. sangat membantu anggotanya, baik untuk yang punya usaha maupun untuk keperluan lainnya. Tapi selama ini koperasi kesannya jadul. Keren nih kalo udah bertransformasi kayak sekarang

    BalasHapus
  3. Wah pertama kali denger kata koperasi itu. Rasanya itu udah ketinggalan gitu. Tapi pas baca ini ternyta wawasan saya aja yang belum nambah. Semoga koperasi semakin berkembang lagi ya mba dan kita perlu membantu pemerintah dalam memajukan perekonomian dalam negeri

    BalasHapus
  4. Iya jadi koperasi yang kekinian ya kak, perjuangan pendahulu harus terus di jaga

    BalasHapus
  5. Makasih ilmu nya mba...jadi tau sejarah koprasi nih,krn di benak saya koprasi itu kayak nya gimana gitu

    BalasHapus
  6. Well koperasi emang main root perekonomian bangsa ya mom. Sebagai generasi millenials saatnya melek koperasi. Jadi ingat zamaa kuliah adalah saat2 awal kenal.kopma.

    BalasHapus
  7. Niat banget ikutan lombanya mom, sampai bikin 2 artikel... Bagus jg analisisnya dr ungkapan tokoh2 koperasi jaman dulu. Sip dah.... Moga sukses

    BalasHapus
  8. Di masa sekolah dulu saya udah kenal koperasi dan jadi anggotanya. Karena dulu ekonomi ortu sulit, menjadi anggota koperasi malah membantu saya bisa beli buku-buku paket yang dibutuhkan tanpa bikin ortu susah. Ya nabung di koperasi gitu dikit-dikit, terus ada SHU juga, dan akhirnya buku paket yang dibutuhkan bisa ke beli. Mulai SMA, gaung mengenai koperasi redup. Zaman anak saya sekolah, nyaris saya tak pernah mendengar lagi koperasi disebut-sebut. Ini sangat disayangkan. Saat ini sepertinya koperasi bangkit kembali dengan inovasi yang sangat keren dan menggandeng generasi milenial. Ini langlah bagus banget ya mengingat ada banyak sekali manfaat koperasi ini bagi pengembangan perekonomian masyarakat.

    BalasHapus
  9. Wah sudah ada peresmian mesin ATM nya pula, keren. Memang inovasi yg sejalan dengan perkembangan jaman sangat dibutuhkan oleh institusi pemerintahan seperti ini. Langkah kemenkopukm sudah sangat tepat. Maju terus koperasi Indonesia!

    BalasHapus
  10. Makin ke sini, koperasi makin kekinian ya mbak. Semoga makin maju perekonomian kita

    BalasHapus
  11. Jadi belajar sejarah koperasi dengan membaca artikel ini. Dulu semasa kuliah pernah ikut koperasi, meski tidak begitu aktif saya dapat SHU, lumayan untuk anak kos pada saat itu. Salut untu koperasi yang mau berinovasi terutama menyentuh generasi milenial.

    BalasHapus
  12. Saya baca ini seperti baca buku pelajaran IPS saya tentang koperasi.. xixixi..

    Bagus nih kalau koperasi menggaet generasi millenia, agar dr mudah sudah bisa mengelola keuangan uyk jangka panjang kelak.

    BalasHapus
  13. Generasi jaman sekarang lebih berani mengeluarkan inovasi dan kreativitasnya dalam bidang usaha, dengan adanya koperasi dapat membantu mereka untuk mengembangkan usahanya ya Mba..

    BalasHapus
  14. Lengkap tulisannya jd tau sejarah koperasi di Indonesia :D
    Emang generasi millenial agak kurang kenal koperasi sih (kayaknya hehe), tapi kalau dibikin inovasi2 kyk gtu,mungkin bisa makin memperkenalkan kebaikan2 koperasi, shg koperasi ini akan tetap bertahan sampai generasi berikutnya.

    BalasHapus
  15. Melibatkan generasi sekarang biar koperasi semakin keren. Karena biasanya anak muda masih kaya dengan inovasi dan pemikiran yang terbuka :)

    BalasHapus
  16. Salut sama koperasi zaman sekarang yang berinovasi dengan melibatkan para generasi millenial. Makin semangat untuk gabung lagi di koperasi nih.

    BalasHapus
  17. Wah bagus-bagus ya produk UMKM yang berbasis Koperasi. Ini adalah wujud nyata bahwa Koperasi juga tetap keren dan bisa eksis di zaman now yg serba canggih. Semoga rebranding-nya tepat sasaran dan kawula muda bisa semakin paham tentang makna Koperasi. Salam kenal yaa Mba :D

    BalasHapus
  18. Bener banget nih biasanya kalau dengar kata Koperasi kok kesannya jadul banget tapi dikantorku dulu juga masih ada koperasi dan aku ikutan menjadi anggota koperasi yang mana paling girang kalau ada pembagian SHU. Hahahahaaa... Nah sekarang produk-produk UMKM sudah banyak yang mengikuti perkembangan zaman jadi walau di kopetasi tapi tetap hype.

    BalasHapus