Jumat, 24 Agustus 2018

Membahas Kedaulatan Maritim Indonesia dalam Bedah Buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta

Teman-teman.. pernahkah terpikir ada cerita apa di balik aktivitas ekspor-impor di Tanjung Priok? Mungkin selama ini produk yang kita gunakan adalah hasil dari proses ekspor dan impor barang yang tentu saja melibatkan pelabuhan sebagai saksi sekaligus gerbang ekonomi nasional.


Di pelabuhan, kita bisa menyaksikan betapa proses bongkar-muat barang merupakan satu hal penting di pelabuhan. Dalam setiap kegiatannya, ada para pekerja yang menggantungkan hidup mereka di sana, berjuang untuk menghidupi keluarga mereka, meraih kesejahteraan bersama.

Satu cerita terjadi pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) yang kontraknya kembali diperpanjang untuk kedua kalinya dengan Hutchison Port Holding (HPH) dari Hongkong sebagai pihak pengelolanya. Hal ini memicu kesedihan dan keprihatinan para pekerja yang merasa bahwa sudah saatnya pelabuhan di negara kita bisa dikelola mandiri oleh anak bangsa. Para pekerja ini tergabung dalam Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SP-JICT).

Audiens Bedah Buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta yang diadakan di Sanggar Maos Tradisi, Sleman Yogyakarta

Secara vital, JICT berperan besar menangani 40-60% arus ekspor dan impor ibukota dan nasional. Jika bisa dikelola sendiri, sepantasnya ada potensi ekonomi dan kedaulatan yang besar.


Satu kegiatan bertajuk Bedah Buku "Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta" mengajak kita mereflesikan kemerdekaan atas kedaulatan pelabuhan di Indonesia. Dengan menghadirkan Dr. Arie Sujito (Sosiolog UGM), Dr. Aris Arief Mundayat (Dosen Lembahanas), Nova Sofyan Hakim (Ketua Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia - FPPI), diskusi berjalan memberi pemahaman baru tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Tanjung Priok, berikut dugaan adanya pemufakatan jahat yang merugikan negara sekurang-kurangnya Rp.4,08 trilyun itu.

Firman, perwakilan SP-JICT

Sebelum diskusi yang diadakan di Sanggar Maos Tradisi, Sleman Yogyakarta ini dimulai, perwakilan SP-JICT menyampaikan maksudnya untuk melakukan roadshow ke kota-kota besar di Indonesia untuk memberi pengetahuan tentang pentingnya bangsa ini mengelola pelabuhannya sendiri, tanpa campur tangan pihak asing.

"Kami tidak anti investasi asing, tapi kami ingin pelabuhan dikelola oleh Indonesia sendiri", papar Firman sembari menegaskan SP-JICT bukan sekedar Serikat Pekerja biasa yang hanya memperjuangkan kesejahteraan buruh saja. Namun, lebih dari itu, SP-JICT berjuang agar JICT tidak lepas ke tangan asing hanya karena alasan utang.


Dalam bedah buku ini, ada 7 pokok bahasan yang diperbincangkan:
1. Pelabuhan merupakan aset strategis bangsa.
2. Ada kencenderungan aset-aset strategis dijadikan jaminan utang, seperti JICT dan TPK Koja.
3. Dengan dijadikan jaminan, ada kemungkinan jatuh ke tangan asing.
4. Hal-hal seperti di JICT (Pelindo II) banyak diduplikasi oleh BUMN lainnya.
5. Jika dibiarkan terus, maka akan mengganggu kedaulatan suatu bangsa.
6. Jika terlambat, maka kejadian di Pelabuhan Hambatonta, Sri Lanka, bisa terjadi di Indonesia
7. Saatnya pemerintah turun tangan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut

Penulis Buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta, Ahmad Khoirul Fata

Menurut Ahmad Khoirul Fata, sang penulis buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta, dirinya tertarik menulis buku ini karena masalah tersebut adalah isu global yang penting. Penulisan bukunya sendiri memakan waktu sebulan, melibatkan dua penulis yang bekerja di dua kota berbeda, Jakarta dan Surabaya. Dengan bahan-bahan yang ada, keduanya melakukan serangkaian riset dan wawancara dengan sumber-sumber terpercaya.

Dr. Arie Sujito (Sosiolog UGM)
Masalah yang terjadi di pelabuhan Tanjung Priok tersebut sangatlah rumit. Pekerja outscourcing di-PHK, petingginya diduga melakukan korupsi, disertai konspirasi untuk menguasai negara kita dengan adanya perjanjian yang berat sebelah antara JICT, Pelindo II dan Hutchison Port Holding. Mengenai ekonomi pertahanan, dibahas langsung oleh Dr. Aris Arif Mundayat.

Dr. Aris Arif Mundayat

Buku ini bisa menjadi sumber pengetahuan kita mengenai pentingnya menjaga kedaulatan maritim Indonesia, termasuk mengusahakan agar Pelabuhan Tanjung Priok yang dipandang sebagai pintu gerbang ekonomi nasional bisa dikelola sendiri oleh bangsa ini, untuk kesejahteraan negara dan kemajuan ekonomi nasional.

Sekian..
Terima Kasih..

0 comments:

Posting Komentar