Proteksi Psikis Anak Sebelum Terlambat

Dear Mom.. Belakangan ini saya jadi ketagihan ikutan parenting class lho, entah itu seminar, workshop, ataupun talkshow bersama expert di bidangnya atau figur-figur berpengalaman. Dalam kegiatan itulah, saya bisa bertemu dan saling berbagi dengan sesama ibu yang rata-rata memiliki kasus dan problema yang sama dengan yang saya hadapi terkait pengasuhan anak, termasuk pentingnya untuk sadar memproteksi psikis anak sebelum terlambat.


Dalam hal pengasuhan anak, beberapa orang tua mungkin selama ini hanya berfokus pada perkembangan fisik anak saja. Jika anak malas makan, orang tua panik bukan main. Segala macam cara pun dilakukan agar anak mau makan, entah itu dengan memberikan suplemen penambah nafsu makan, membawanya ke dokter atau ahli gizi untuk untuk mendapatkan saran yang tepat terkait kebutuhan nutrisi anak.

Memaksa anak makan malah akan membuatnya trauma (pic source: nakita id)

Tak jarang pula, ada orang tua yang memaksa anak makan dengan cara marah-marah atau membentak, tanpa sadar bahwa sikap tersebut bukannya mendatangkan manfaat bagi anak, malah bisa berdampak buruk bagi perkembangan perilaku dan psikisnya?

Bukankah cara demikian malah berat sebelah? Karena ditekan rasa takut, pada akhirnya mungkin anak akan menuruti keinginan sang ibu untuk makan. Namun pernah terbayangkah apa yang akan terjadi kemudian? Anak kita mungkin saja akan terlihat sehat dan segar secara fisik karena kebutuhan makannya terpenuhi, namun secara psikis malah stres karena keseringan melihat ibunya marah-marah saat memaksanya makan.

Memaksa anak makan mungkin membuat fisiknya tercukupi dengan asupan makanan.. Namun baguskah cara ini bagi perkambangan psikisnya? (pic source: nakita.id)

Jika kita sadar, pastinya kita tidak akan membiarkan anak kita tumbuh dalam lingkungan yang merusak mentalnya. Masalah ini perlu kita perhatikan dengan lebih serius, Mom.. Kelak, pembentukan perilaku dan psikis anak adalah aset dan modal dasar bagi anak bergaul pada lingkup sosialnya di masa depan.

Anak butuh role model

Sepakatkah Mom bila sebelum memutuskan untuk memiliki anak, seseorang harus sudah selesai dengan dirinya sendiri, secara materi dan emosional? Dalam artian, sebelum memiliki anak, mental kita diwajibkan siap untuk menerima kehidupan baru bersama dengan perubahan-perubahan yang datang setelah kehadiran anak di tengah-tengah kita.

Orang Tua adalah Role Model utama bagi Anak (pic source: okezone.com)

Pada tanggal 31 Juli lalu, dalam sebuah Blogger Gathering berformat talkshow dengan tajuk "Tips Menjaga Psikis Anak Sejak Dini" bersama Halodoc yang diadakan sehubungan dengan Hari Anak Nasional 23 Juli, para orang tua, utamanya yang baru memiliki anak, dianjurkan untuk bisa mendidik anaknya dengan cara yang lebih baik dan lebih sehat. Tujuannya adalah agar kita lebih serius menjaga stabilitas psikis anak sejak usia kanak-kanak, sehingga anak bisa menikmati masa cerianya ini dengan penuh semangat, tanpa tekanan, rasa takut ataupun pengaruh buruk dari orang tuanya.

Dalam rangka memperingati hari anak 23 Juli, Halodoc menggelar talkshow "Tips Menjaga Psikis Anak Sejak Dini"

Dalam acara ini, Kak Nana, Offline Marketing Manager Halodoc menyampaikan pandangannya, bahwa pada umumnya orang tua mendidik anak sesuai norma yang ada di masyarakat saat ini, tapi belum tentu hal itu dibenarkan secara medis. Apalagi, sekarang zaman sudah semakin berubah, di mana anak sudah semakin aware dengan teknologi. Sehingga, orang tua perlu cara khusus untuk mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Kak Nana.. Offline Marketing Manager of Halodoc (photo taken by Amallia Sarah)

Karenanya, Halodoc ingin memanfaatkan momen Hari anak di Bulan Juli ini untuk mengajak para orang tua untuk lebih memperhatikan kesehatan anak, sebagai investasi dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang sehat secara fisik dan mental di kemudian hari.

Menurut survei yang telah dilakukan pada 1176 orang, ditemukan fakta bahwa dua per tiga orang dewasa percaya bahwa nilai moral anak menurun cukup pesat saat mereka masih muda.

Meski topiknya serius, namun Talkshow "Tips Menjaga Psikis Anak Sejak Dini" bersama Halodoc dikemas santai dan interaktif, jadi tidak membosankan bagi peserta.

Saya menghadiri talkshow ini bersama teman-teman dari Mom Blogger Community. Harus saya akui, bahwa talkshow ini merupakan salah satu acara bincang yang meski terbalut suasana santai, namun pesannya benar-benar tersampaikan dengan sangat inspiratif.

Dalam presentase berjudul "Orangtua sebagai Panutan dalam Mendidik Anak", Dr. Tjhin Wiguna Sp.KJ, seorang psikiater spesialis anak dan remaja yang didaulat sebagai narasumber acara ini menyampaikan bahwa orang tua memiliki peran sangat penting dalam proses perkembangan karakter dan moral anak.
Harian "The Times" di Amerika melaporkan bahwa peningkatan budaya selebriti dan melemahnya hubungan dalam keluarga akan menurunkan nilai moral anak.

Dr. Tjhin Wiguna Sp. KJ, narasumber dalam Talkshow "Tips Menjaga Psikis Anak Sejak Dini bersama Halodoc (photo taken by Amallia Sarah)

Dokter yang aktif pada Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa, RSCM - FKUI ini menekankan  bahwa satu hal yang perlu kita pahami sebagai orang tua, bahwa di masa pertumbuhannya, anak membutuhkan sosok panutan (role model) untuk dijadikan contoh dalam bersikap, berperilaku, dan berinteraksi.

Tokoh panutan ini bisa anak dapatkan dari lingkungan terdekatnya, termasuk kita para orang tua, saudara-saudara, tante, om, kakek, nenek, tetangga, bahkan dari tontonan di TV atau Youtube, radio, dan lain-lain. Namun demikian, faktanya, mayoritas anak menganggap orang tua adalah panutan yang paling penting. Anak-anak cenderung mencontoh perilaku orang tuanya, berdasarkan apa yang ia lihat setiap hari. Children See.. Children Do..

Children See.. Children Do.. (pic source: hipwee.com)

Menjaga Anak dari Pengaruh Buruk Lingkungan

Jika kita sudah mengerti dengan pembahasan di atas, kita pasti sudah mendapat benang merahnya, bahwa sebagai orang tua, kita wajib mengontrol diri agar bisa bersikap, berbahasa, dan berperilaku positif, demi menerapkan lingkungan yang sehat bagi perkembangan mental anak.

Setelah kita mengoreksi diri kita sebagai orang tua, penting pula untuk memperhatikan aspek lingkungan sekitar anak.

Anak bisa tertekan jika orang tua secara sengaja atau tidak, telah menciptakan lingkungan buruk bagi mental anak (sumber: solusisehatku.com)

Fenomena yang terlihat saat ini menunjukkan bahwa masyarakat terkadang berinteraksi dengan bahasa, sikap, dan perilaku yang menurut mereka lucu, namun teryata tidak tepat. Contohnya: Ejekan yang bersifat fisik, bukannya berkesan lucu, malah berdampak buruk seperti berikut:
- Beberapa anak berpikir jika itu menyakitkan
- Beberapa anak tidak bisa membaca pesan dan tanda sosial dari penggunaannya
- Beberapa anak salah pengertian dan terluka akan hal ini.

Pandanglah Anak Sebagai Anugerah Allah

Mom.. kalo kita koreksi diri sama-sama, pernah nggak, kita tiba-tiba memarahi si kecil saat dia mengganggu kita yang sedang sibuk bekerja? Atau pernah nggak, di depan anak, kita ngumpat-ngumpat di jalan karena kelamaan nunggu kendaraan umum yang nggak lewat-lewat? Atau mungkin, kita pernah membentak orang lain dengan kata kasar di hadapan anak?

Kadang mengontrol diri untuk menahan emosi itu susah ya, Mom? Apalagi di saat kondisinya memang benar-benar susah dikendalikan, entah saat itu mungkin kita dilanda panik, stres, atau kesel. Saat memarahi anak, kadang kita lupa, anak tidak punya salah apa-apa ketika kita memarahinya. Anak juga tidak pantas mendengar sumpah-serapah bernada kasar di usia dini. Lantas, bagaimana cara tepat untuk bisa menguasai diri agar tidak mudah terbawa emosi?

Pandanglah Anak dengan Rasa Syukur sebagai Anugerah dan Keajaiban dari Allah (pic source: icc-jakarta.com) 

Dr. Tjhin mengingatkan kita untuk kembali memandang kehadiran anak dalam kehidupan kita sebagai sebuah anugerah yang dititipkan Allah kepada kita, yang harus kita jaga dengan sebaik mungkin.

Dengan kesadaran itu, niscaya rasa cinta akan kembali hadir, menumbuhkan semangat yang lebih besar untuk merawat anak dengan kasih sayang. Karena di masa depan anak, kita juga menyelipkan cita-cita, impian, dan harapan tentang wajah, sikap, dan pencapaiannya di masa depan. Bukan begitu Mom?

Sebelum Terlambat, Mari Kita Jaga Psikis Anak Sedini Mungkin

Mom.. tentunya kita semua ingin anak kita tumbuh naik secara psikis/mental. Hal ini penting juga untuk menunjang pencapaian prestasi anak di setiap tahapan yang dilaluinya, entah itu di sekolah, penyaluran hobi, bakat, dan sebagainya. Karenanya, sebelum terlambat, sebaiknya kita segera koreksi diri, bergerak secepat mungkin demi menjaga kesehatan fisik dan psikis anak sejak dini. Ibarat pepatah "Sedia Payung Sebelum Hujan..", jangan sampai kita menyesal di kenudian hari.


Di Talkshow interaktif bersama Halodoc yang diadakan di Paradigma Cafe ini, Dr. Tjhin juga menekankan beberapa hal penting agar bisa fokus menjadi panutan bagi anak, antara lain dengan cara:
- Selalu menunjukkan sikap dan perilaku positif pada anak
- Tunjukkan pada anak, bahwa orang tuanya selalu berorientasi pada tujuan dan perencanaan yang baik
Oh iya.. Dr. Tjhin juga memberikan beberapa tips untuk menerapkan hal-hal penting dalam hal memberi panutan yang baik bagi anak, di antaranya:
- Bantu anak menemukan panutan dalam bidang yang disukainya. Bila perlu, kenalkan anak dengan sosok idolanya tersebut.
- Obrolkan dengan anak tentang orang-orang telah bekerja membuat perubahan positif dalam kehidupan atau lingkungan sekitarnya.
- Lingkupi kehidupan rumah tangga kita dengan suasana Illahiyah, demi menghidupkan lentera keagamaan di dalam rumah.
- Berikan pujian kepada anak, ketika ia menunjukkan sikap, perilaku, dan bahasa yang positif.
- Kenali perasaan diri kita sebagai orang tua dan perasaan anak. Kita harus mampu memotivasi diri untuk bisa mengolah emosi dengan baik.
- Memberi semangat kepada anak untuk selalu bersikap dan berperilaku positif.
- Mengingatkan serta memberi contoh dalam menjalankan tata krama dalam kehidupan sehari-hari, contohnya: bersyukur, berterima kasih, meminta maaf dan memaafkan, bertanggung jawab, menolong, memberi salam, dan lain-lain.
- Kembangkan empati pada anak, misalnya dengan menjenguk orang sakit, memaknai penderitaan orang lain, dan sebagainya.

Tetap Sehat Tanpa Ribet dengan Halodoc

Setelah sama-sama ngebahas Pentingnya Menjaga Kesehatan Psikis Anak Sejak Dini bersama Halodoc, pasti ada yang bertanya-tanya, "Apa sih Halodoc?". Ehm.. Mom baru denger ya?


Oke Mom.. daripada bingung, saya jelasin aja yaa bahwa Halodoc adalah kesehatan terpadu berbasis online yang hadir untuk memberi solusi kesehatan secara lengkap dan terpercaya dalam memenuhi kesehatan penggunanya.

Tampilan Homepage pada Aplikasi Halodoc

Halodoc punya 3 fitur utama, yakni:

- Pharmacy Delivery, sebuah layanan Apotek Antar 24 jam yang dapat membantu kita untuk membeli suplemen, vitamin, dan obat dengan resep Dokter dengan cepat, aman, dan nyaman. Untungnya beli obat pake Halodoc itu adalah bebas ongkir atau biaya pengantaran, Mom.. Untuk mengantar obat, Halodoc juga telah bekerjasama dengan aplikasi ojek online Go-Jek untuk mempermantap pelayanannya.


- Contact Doctor (Hubungi Dokter). Layanan ini menyediakan fasilitas voice call, video call, atau chat untuk berinteraksi langsung dengan ribuan Dokter atau tim medis yang selalu siap melayani kita karena mereka online 24 jam lho.. Sebut saja, dokter umum, spesialis anak, internis, spesialis mata. Semuanya siap mendengarkan keluhan kita kapanpun kita butuh, Mom.. Mudah banget kan?


- Labs atau Lab Service. Halodoc bekerjasama dengan Prodia untuk memudahkan anda melakukan pengecekan kesehatan di rumah maupun kantor. Dengan menggunakan fitur ini, Phlebotomist (petugas lab) akan datang ke tempat kita untuk melakukan medical check-up seperti cek darah ataupun urine. Saat ini, fitur Labs sudah bisa dimanfaatkan para pengguna HaloDoc di daerah Jakarta Pusat dan Selatan, namun seiring pengembangannya, Halodoc akan terus memperluas jangkauan fitur Labs, agar kita semua bisa merasakan manfaatnya sama-sama ya, Moms..

Kak Nana menjelaskan fitur Labs (Labs Service) di Halodoc kepada peserta Talkshow (photo taken by Amallia Sarah)

Wah.. asik ya Moms.. aplikasi Halodoc bisa jadi solusi praktis untuk menjaga kesehatan kita tanpa perlu ribet-ribet kan?

Nah.. kalo mau info yang lebih lengkap lagi soal aplikasi Halodoc, Mom bisa cek di website www.halodoc.com atau di instagram @halodoc 😊

Acara talkshow dirangkaikan dengan foto bareng narasumber dan peserta (pic source: Amallia Sarah)

Pokoknya seru banget deh kegiatan Talkshow "Tips Menjaga Psikis Anak Sejak Dini" ini. Gak hanya saya aja yang merasa senang sudah mendapat banyak manfaat dan ilmu dari acara ini, namun semua Mom mengaku puas dengan semua inspirasi yang dibagikan di sini.. Semoga acara bertema seperti ini semakin giat dilaksanakan ya, Mom.. Jadi, semangat dan awareness kita terhadap kesehatan anak, baik secara fisik maupun psikis bisa terus terlatih untuk ditingkatkan.

Semoga Bermanfaat 😊

#HalodocHariAnak
#PakeHaloDoc
#HaloDocxMBC

Komentar

  1. Hikshiks aku juga suka marah nih kalo anakku mulai ga mau makan. Bukan apa-apa karena takut aja dia sakit.Apalagi anakku pernah juga kena typus..Kudu lebih sabar lagi nih ya.Makasih sharing infonya mom.

    BalasHapus
  2. Kenali anak-anak dengan idolanya. Semoga idola anak-anak adalah orang tuanya sendiri ya. Sebagai orang tua juga harus menjadi role model idaman bagi mereka.

    BalasHapus
  3. Seru ya mbak acaranya, saya juga dapat ilmunya ya meskipun belum punya anak tapi setidaknya bisa menjadi pelajaran buat saya setelah punya anak nanti.

    BalasHapus
  4. Pengen deh suatu saat bisa ikutan kegiatan bermanfaat macam gini. Sayang banget aq tinggal jauh dr ibukota jd belum pernah dpt kesempatan ikutan.

    BalasHapus
  5. Jadi sebagai orang tua jangan hanya fokus ke fisik anak aja, ya. Psikisnya pun penting banget untuk diperhatikan

    BalasHapus
  6. Aplikasi Halodoc emang bagus dan membantu kita banget ya mbak. Apalagi saat ngadepin anak sakit... Alhamdulillah gak panik lagi klo aku.. Membantu banget

    BalasHapus
  7. Saya berusaha memperhatikan dan memenuhi psikis anak saya sedini mungkin. Karena selalu ingin menjadi tempat ternyaman untuk dirinya karena saya adalah ibunya

    BalasHapus
  8. Iyap betul mba aku setuju, anak-anak butuh role model yang menjadi panutannya dalam kebiasaan hidup yang baik. Makasih yaa saran dan tips nya

    BalasHapus
  9. Saya juga senang sekali bisa hadir di acara kemarin itu Mbak. Narasumbernya keren, asyik juga cara nyampein materinya, gak nyesel deh udah datang..

    BalasHapus
  10. Kemudahan prodia membantu para keluarga pasien yang tidak bisa jalan ke rumah sakit

    BalasHapus
  11. Huhuhu... saya nih yang masih belum tuntas perkara inner child. Kadang kalau sadar, jadi kasihan ke anak. Akhirnya saya kuatin doa. Semoga anak saya selalu selamat termasuk urusan psikis akibat sikap saya yang kadang suka marah ke dia.

    BalasHapus
  12. aku belum lama ini ngalami, anak mau UN kerasa pressure psikisnya. Sempat kepikiran mau ajak konsul gitu tapi bayangin waktunya sama cari tempat yang pas di mana, belum tahu ternyata bisa lewat Halodoc yaa.

    BalasHapus
  13. Di Halodoc ada psikiater atau dokter tumbang gak ya? Aku udah download tapi belum verifikasi. Kan enak kalau ada psikiater dan semacamnya, gak semua daerah ada psikiater karena penyakit psikis di masyarakat kita masih dianggap bukan penyakit

    BalasHapus
  14. Keren acaranya, pengen deh kapan-kapan ikutan acara seperti ini.
    Membaca beberapa ulasan tentang Halodoc sukses membuat saya langsung meluncur ke playstore dan langsung download.

    BalasHapus
  15. Bagus seminarnya. Ngasih insigt yang berbeda tentang psikis anak. Jujur ini jadi nomor kesekian sama aku dan top prioritynya selalu itu soal fisik. Padahal itu ngaruh banget ya kak. Alhamdulillah halodoc memberikan solusi jitu dan anti ribet bagi kita yang butuh penanganan cepat.

    BalasHapus
  16. Sebagai seorang ibu, Halodoc bermanfaat dan solusi banget buat saya yang selalu perhatian kesehatan keluarga

    BalasHapus
  17. Ikut parenting class emang bikin ketagihan kok karena jadi nambah ilmu urus anak. Apalagi usia makin bertambah.

    BalasHapus
  18. Children see, children do, orangtua (terutama yg punya anak usia dini) kudu waspada banget ya krn semua yg dilihat akan otomatis ditiru sama mereka.

    BalasHapus
  19. Anak anak emang copasan nya orang tua ya mbak.harus hati hati dalam berperilaku karena mudah ditiru

    BalasHapus

Posting Komentar

Check My Popular Post, guys..