Waspada Hepatitis dengan Deteksi Dini


Hepatitis adalah permasalahan kesehatan yang serius di dunia, termasuk di negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Sudah saatnya kita lebih waspada terhadap resiko penularan Hepatitis dengan melakukan Deteksi Dini Hepatitis B yang sudah bisa dilakukan di 34 provinsi dan 244 kabupaten/kota.



Teman-teman.. Sadarkah kita bahwa kesehatan adalah aset masa depan? Di masa tua nanti, tentunya kita ingin menikmati hidup dengan santai, bebas rasa khawatir yang disebabkan vonis penyakit yang biasanya menyerang di usia senja.

Sebenarnya, bila kita benar-benar ingin terhindar dari rasa cemas tersebut, ada tips yang bisa kita terapkan di masa muda, yaitu Deteksi Dini.

Namun, kendalanya saat ini banyak orang yang tidak mau memeriksakan kesehatannya (medical check-up) dengan berbagai alasan. Entah karena merasa ribet dengan prosesnya, takut dengan alat-alat laboratorium, atau mungkin takut divonis aneh-aneh oleh dokter.

Saya pun pernah berpikir demikian, sudah merasa takut dan ribet duluan jika membayangkan medical check-up, mengesampingkan berbagai keuntungan dan manfaat yang bisa saya peroleh jika berani periksa kesehatan sedini mungkin, lebih cepat lebih baik.

Kenapa saya tiba-tiba kepikiran tentang Deteksi Dini? Begini alasannya..
Jadi, pada tanggal 27 Juli lalu, saya bersama rekan-rekan blogger di Jakarta, mengikuti Seminar Kesehatan di Gedung Kementerian Republik Indonesia serangkaian "Hari Hepatitis Sedunia" yang diperingati pada 28 Juli setiap tahunnya. Khusus tahun ini, tema yang diambil adalah "Deteksi Dini Hepatitis Selamatkan Generasi Penerus Bangsa".

Peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang bahaya Hepatitis tidak hanya dilakukan pada peringatan Hari Hepatitis Sedunia saja namun bisa diterapkan setiap saat. Pemerintah telah berinisiatif menjadikan Hari Hepatitis Sedunia tahun ini sebagai momentum untuk semakin meningkatkan kepedulian semua pihak terhadap penyebaran virus Hepatitis di Indonesia.

Tahukah teman-teman bahwa pengendalian virus hepatitis berdampak sangat serius terhadap derajat kesehatan masyarakat? Fakta menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara endemis tinggi hepatitis. Untuk menyiasati hal ini, pemerintah telah menempuh sejumlah cara pencegahan, diantaranya dengan melakukan imunisasi Hepatitis B kepada bayi baru lahir secara nasional.

Dari rentang waktu 2016 - Juni 2018, berbagai capaian Pengendalian Hepatitis di Indonesia telah diperoleh, di antaranya:
1. Sosialisasi faktor risiko Penyakit Hepatitis di 34 provinsi.
2. Imunisasi rutin Hepatitis B pada bayi di 34 Provinsi dengan pencapaian di atas 93,5%
3. Deteksi dini Hepatitis B sudah dapat dilakukan pada 34 provinsi dan 244 kabupaten/kota
4. Deteksi dini Hepatitis B pada 742.767 ibu hamil, juga berhasil memproteksi 7.268 bayi terhadap ancaman penularan vertikal pada bayinya.
5. Pengobatan Hepatitis C dengan obat Direct Acting Antiviral (DAA) pada 17 provinsi yang diduga memiliki junlah penderita Hepatitis C terbanyak.

Pentingnya pengetahuan dan kesadaran akan risiko dan bahaya hepatitis dapat menyelamatkan, mengingat bahayanya bisa mengintai kapan saja, penyebaran virus dari penggunaan jarum suntik dan produk darah yang tak steril.

Dari seminar Hari Hepatitis Sedunia pada Kementerian Kesehatan tersebut, saya juga tersadar bahwa saat ini masyarakat cenderung lebih aware terhadap penularan HIV ketimbang Hepatitis. Padahal faktanya, Hepatitis memiliki kecenderungan Hepatitis yang lebih besar ketimbang HIV.

Dari Seminar Kesehatan yang menghadirkan Dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes. (Direktur Penanganan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI) tersebut pula, dijelaskan bahwa Hepatitis adalah Radang Hati, yang selain bisa disebabkan penularan virus Hepatitis, bisa juga oleh Obat-obatan, Alkohol, Perlemakan, Parasit (Malaria, Ameba), dan virus lainnya seperti Dengue atau Herpes. Namun, dari sekian banyak pemicunya, virus Hepatitislah yang merupakan penyebab terbesar.

Hepatitis termasuk penyakit yang jarang menampakkan indikasi pada penderita jika tidak dideteksi secara langsung, itulah sebabnya mengapa Hepatitis sampai digolongkan sebagai penyakit kronis yang berperilaku silent killer. Dampak yang bisa terjadi jika tidak sejakndini mendeteksi Hepatitis adalah resiko Hepatitis Kronis, Cirrhosis, dan Hepatocullar carcinoma (with chirrosis).

Hepatitis Kronik mengalami keparahan samoai berakibat kematian, karena berpotensi memperparah kondisi struktur dan fungsi hati, dari Healthy Liver, Fibrotic Liver, Cirrhotic Liver, dan Liver Cancer.

Bahayanya, 1 dari 4 penderita Hepatitis meninggal karena Hepatitisnya sudah menjelma menjadi kanker hati. Penderitanya terlambat tau karena tidak cepat-cepat memeriksakan diri. Sebagian besar pengidap tidak menyadari dirinya terkena Hepatitis hingga saat muncul komplikasi.

Hepatitis bisa menular melalui kotoran dari mulut (Hepatitis A, Hepatitis E) dan Kontak Cairan Tubuh (Hepatitis B, Hepatitis C, Hepatitis D).

Selain itu, Hepatitis juga dapat menular melalui kontak cairan tubuh melalui:
1. perinatal (ibu ke anak)
2. anak ke anak atau dari dewasa ke anak
3. transfusi darah dan organ yang tidak diskrining
4. penggunaan jarum yang tidak aman
5. hubungan seksual yang tidak aman, serta
6. kontak dengan darah.



Penting kita ketahui, bahwa penularan Virus Hepatitis B secara vertikal dari ibu hamil ke janinnya beresiko sangat besar, mencapai 95%. Itulah sebabnya mengapa ibu hamil selalu dianjurkan untuk sedini mungkin memeriksakan diri dan kandungannya dengan Deteksi Dini Hepatitis B.

Untuk mencegah inveksi vertikal hepatitis B, dapat ditempuh dengan strategi berikut:
1. Memeriksakan ibu hamil dengan metode Screening Hepatitis B
2. Konsultasi oleh Ibu hamil yang terinfeksi Hepatitis B kepada dokter
3. Pemberian vaksin HB0 <24 jam pada semua bayi yang baru lahir
4. Memberikan tambahan HBIG <24 jam setelah kelahiran pada bayi dari ibu hamil yang berstatus HBsAg reaktif
5. Menyarankan ibu hamil dengan Hepatitis B (HBsAg reaktif) untuk melahirkan di fasilitas layanan kesehatan.

Selain itu, upaya pencegahan penularan Hepatitis B dari Ibu ke Bayinya dapat dicegah dengan cara:
- Segera lakukan vaksinasi HB0 setelah bayi lahir (< 24 jam)
- Segera beri HBIG < 24 jam pada bayi yang baru lahir dari Ibu dengan Hepatitis B.

Teman-teman.. Sadarkah kita bahwa Hepatitis telah menyebabkan kerugian besar bagi negara, karena menyebabkan setiap tahunnya terdapat rata-rata 2,2% dari keseluruhan 5,3 juta Ibu Hamil yang berstatus HBsAg reaktif.
Pada 30 tahun ke depan, diperkirakan ada 120.000 bayi yang akan menderita Hepatitis B dan 95% berpotensi Hepatitis Kronis (sirosis atau kanker hati).

Faktanya, biaya yang dikeluarkan untuk membiayai 1 kasus sirosis adalah 1M, dan 1 kasus kanker hati sekitar 5M.

Dengan demikian.. Bukankah ini berarti Fenomena Virus Hepatitis telah menyebabkan kerugian besar bagi negara? Bukan hanya dari sisi materinya saja, tapi juga menyebabkan resiko hilangnya generasi bangsa sebagai aset masa depan bangsa?

Karenanya.. Yuk mari segera lakukan Deteksi Dini sekarang juga, untuk menyelamatkan bangsa dari berbagai macam penyakit, dari ringan hingga kronis, seperti Hepatitis.

Terima Kasih..
Semoga bermanfaat..

Komentar

  1. Tulisannya sangat membantu kak, Dan membuat waspada. Mau bertanya, Cara deteksi awalnya bgmbna ya ?? Atau langkah yg harus Kita ambil bagaimna ?? Makasih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Check My Popular Post, guys..