Jumat, 17 September 2021

Gaungkan Literasi Kesehatan, Lawan Hoaks dan Stigma Negatif

Ada satu acara talkshow yang sangat menarik di bulan September ini, bertema "Gaung Kusta di Udara" diadakan pada Senin pagi, 13 September 2021, ditayangkan Live di Youtube Ruang KBR, menghadirkan dr. Febrina Sugianto (Junior Technical Advisor NLR Indonesia) dan Malika (Manager Program and Podcast KBR).

Satu pertanyaan ini muncul di benak saya.. Kenapa kusta dipilih sebagai topik perbincangan dalam talkshow? Ternyata, tema tersebut sehubungan dengan Perayaan Hari Radio Nasional yang berlangsung pada 11 September. Kantor Berita Radio atau KBR menilai, perkembangan informasi menjadi semakin cepat saat ini, tepatnya di era digital. Untuk mengimbangi hal tersebut, sudah selayaknya masyarakat memiliki tingkat literasi informasi yang baik, termasuk literasi kesehatan.

Satu tantangan terbesar adalah penyebaran hoaks atau berita tidak valid, yang berisiko memunculkan stigma negatif. Penyakit kusta, contohnya. Hoaks kesehatan yang kerap beredar adalah kusta disebut sebagai penyakit kutukan, tidak bisa disembuhkan, sehingga penderitanya perlu dijauhi, mendapat stigma dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat, akibat misinformasi yang beredar. Sebagai respon dan tindakan konkret, KBR dan NLR bekerjasama untuk lebih meningkatkan akses publik terhadap informasi dan pengetahuan yang lebih benar dan akurat tentang kusta.

Sebagai informasi, Leprastichting atau NLR adalah organisasi nirlaba non-pemerintah yang didirikan di Belanda pada tanggal 30 Maret 1967. NLR Indonesia memulai kegiatannya di Indonesia pada tahun 1975 dengan memberikan bantuan ke Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya. Saat ini NLR Indonesia bekerja di 14 provinsi untuk mempromosikan dan mendukung kesehatan, kemampuan dan inklusi bagi orang yang mengalami kusta dan penyandang disabilitas.

Saat ini NLR beroperasi di Mozambique, India, Nepal, Brazil dan Indonesia. Di Indonesia, NLR mulai bekerja di tahun 1975 bersama Pemerintah Indonesia. Pada 2018, NLR bertransformasi menjadi entitas nasional dengan maksud untuk membuat kerja-kerja  organisasi menjadi lebih efektif dan efisien menuju Indonesia bebas dari kusta. Sama seperti aliansi NLR Internasional, NLR Indonesia memiliki slogan: Hingga kita bebas dari kusta.

Apa itu kusta? Kusta atau disebut juga dengan Lepra merupakann peyakit infeksi kronis, dapat menyebabkan lesi kulit dan kerusakan saraf, namun bisa disembuhkan. Kusta disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kondisi ini terutama memengaruhi kulit, mata hidung dan saraf perifer.

Di Indonesia, kusta masih tergolong penyakit langka, dengan kurang dari 15 ribu kasus per tahun. Kusta dapat menular melalui percikan di udara, melalui uap air udara pernapasan (batuk atau bersin). Untuk penanganannya, kusta membutuhkan diagnosis medis, seringkali memerlukan uji atau pencitraan laboratorium, memerlukan penanganan tenaga media profesional, agar penderita terhindar dari resiko kronis, dimana kusta bisa bertahan selama bertahun-tahun atau seumur hidup

Gejala kusta termasuk bercak-bercak berwarna terang atau kemerahan di kulit disertai dengan berkurangnya kemampuan merasa, mati rasa, dan lemas pada tangan dan kaki, namun untuk pemeriksaan dan diagnosis, masyarakat perlu konsultasi ke otoritas medis lokal Anda untuk saran.

Untuk perawatan dan pengobatan, kusta dapat disembuhkan dengan terapi sejumlah obat selama 6-12 bulan, termasuk antibiotik. Penanganan dini akan menghindarkan dari resiko tinggi atau kronis.

dr. Febrina Sugiarto dalam talkshow "Gaung Kusta di Udara" yang diadakan NLR dan KBR memaparkan, untuk menanggulangi kusta dan konsekwensinya di seluruh dunia, NLR menggunakan pendekatan tiga zero, yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi).

Zero Transmission /Nihil Transmisi, dilakukan dengan berbagai program, seperti: Peningkatan Kapasitas Dalam Pengendalian Kusta, Desa Sahabat Kusta Dengan Komunikasi Perubahan Perilaku, Kemoprofilaksis Dengan Komunikasi Perubahan Perilaku, PEP++, Pengendalian Kusta Di Kawasan Perkotaan Dan Terisolir, serta PEP-COM.

Zero Disability/ Nihil Disabilitas, antara lain dengan program Kombinasi Pendekatan KPD Untuk Kusta Dan Filariasis, Semi Active Surveillance (SAS) Paska Berobat Kusta, serta Konseling Sebaya.

Zero Exclusion/ Nihil Eksklusi atau Stigma, mencakup program Mardika (Masyarakat Ramah Disabilitas Dan Kusta), LEAP, PADI, Long Term Investment, My Body is Mine, Anak dengan Down Syndrome, dan MIVA.

Selama sepuluh tahun terakhir , NLR Indonesia juga telah membangun dan mengorganisir kelompok perawatan diri bagi orang yang mengalami atau pernah mengalami kusta, bekerja sama dengan staf kesehatan dan supervisor kusta. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup orang yang pernah mengalami kusta.

Perlu disadari bersama, setelah menyimak perbincangan dan pemaparan narasumber dalam talkshow "Gaung Kusta di Udara", adalah pentingnya ketelitian madyarakat dalam menangkal informasi yang belum valid kebenarannya atau hoaks dalam hal kesehatan, termasuk kusta. Tak bisa dipungkiri, masih banyak masyarakat yang beranggapan penyakit kusta adalah penyakit keturunan atau kutukan. Padahal pernyataan tersebut keliru, sehingga para petugas kesehatan gencar menyosialisasikan bahwa penyakit Kusta disebabkan bakteri Mycobacterium Lepra yang menyerang kulit, dapat disembuhkan bila dilakukan pengobatan sejak dini.

0 komentar:

Posting Komentar