Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 September 2021

Gaungkan Literasi Kesehatan, Lawan Hoaks dan Stigma Negatif

Ada satu acara talkshow yang sangat menarik di bulan September ini, bertema "Gaung Kusta di Udara" diadakan pada Senin pagi, 13 September 2021, ditayangkan Live di Youtube Ruang KBR, menghadirkan dr. Febrina Sugianto (Junior Technical Advisor NLR Indonesia) dan Malika (Manager Program and Podcast KBR).

Satu pertanyaan ini muncul di benak saya.. Kenapa kusta dipilih sebagai topik perbincangan dalam talkshow? Ternyata, tema tersebut sehubungan dengan Perayaan Hari Radio Nasional yang berlangsung pada 11 September. Kantor Berita Radio atau KBR menilai, perkembangan informasi menjadi semakin cepat saat ini, tepatnya di era digital. Untuk mengimbangi hal tersebut, sudah selayaknya masyarakat memiliki tingkat literasi informasi yang baik, termasuk literasi kesehatan.

Satu tantangan terbesar adalah penyebaran hoaks atau berita tidak valid, yang berisiko memunculkan stigma negatif. Penyakit kusta, contohnya. Hoaks kesehatan yang kerap beredar adalah kusta disebut sebagai penyakit kutukan, tidak bisa disembuhkan, sehingga penderitanya perlu dijauhi, mendapat stigma dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat, akibat misinformasi yang beredar. Sebagai respon dan tindakan konkret, KBR dan NLR bekerjasama untuk lebih meningkatkan akses publik terhadap informasi dan pengetahuan yang lebih benar dan akurat tentang kusta.

Sebagai informasi, Leprastichting atau NLR adalah organisasi nirlaba non-pemerintah yang didirikan di Belanda pada tanggal 30 Maret 1967. NLR Indonesia memulai kegiatannya di Indonesia pada tahun 1975 dengan memberikan bantuan ke Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya. Saat ini NLR Indonesia bekerja di 14 provinsi untuk mempromosikan dan mendukung kesehatan, kemampuan dan inklusi bagi orang yang mengalami kusta dan penyandang disabilitas.

Saat ini NLR beroperasi di Mozambique, India, Nepal, Brazil dan Indonesia. Di Indonesia, NLR mulai bekerja di tahun 1975 bersama Pemerintah Indonesia. Pada 2018, NLR bertransformasi menjadi entitas nasional dengan maksud untuk membuat kerja-kerja  organisasi menjadi lebih efektif dan efisien menuju Indonesia bebas dari kusta. Sama seperti aliansi NLR Internasional, NLR Indonesia memiliki slogan: Hingga kita bebas dari kusta.

Apa itu kusta? Kusta atau disebut juga dengan Lepra merupakann peyakit infeksi kronis, dapat menyebabkan lesi kulit dan kerusakan saraf, namun bisa disembuhkan. Kusta disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kondisi ini terutama memengaruhi kulit, mata hidung dan saraf perifer.

Di Indonesia, kusta masih tergolong penyakit langka, dengan kurang dari 15 ribu kasus per tahun. Kusta dapat menular melalui percikan di udara, melalui uap air udara pernapasan (batuk atau bersin). Untuk penanganannya, kusta membutuhkan diagnosis medis, seringkali memerlukan uji atau pencitraan laboratorium, memerlukan penanganan tenaga media profesional, agar penderita terhindar dari resiko kronis, dimana kusta bisa bertahan selama bertahun-tahun atau seumur hidup

Gejala kusta termasuk bercak-bercak berwarna terang atau kemerahan di kulit disertai dengan berkurangnya kemampuan merasa, mati rasa, dan lemas pada tangan dan kaki, namun untuk pemeriksaan dan diagnosis, masyarakat perlu konsultasi ke otoritas medis lokal Anda untuk saran.

Untuk perawatan dan pengobatan, kusta dapat disembuhkan dengan terapi sejumlah obat selama 6-12 bulan, termasuk antibiotik. Penanganan dini akan menghindarkan dari resiko tinggi atau kronis.

dr. Febrina Sugiarto dalam talkshow "Gaung Kusta di Udara" yang diadakan NLR dan KBR memaparkan, untuk menanggulangi kusta dan konsekwensinya di seluruh dunia, NLR menggunakan pendekatan tiga zero, yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi).

Zero Transmission /Nihil Transmisi, dilakukan dengan berbagai program, seperti: Peningkatan Kapasitas Dalam Pengendalian Kusta, Desa Sahabat Kusta Dengan Komunikasi Perubahan Perilaku, Kemoprofilaksis Dengan Komunikasi Perubahan Perilaku, PEP++, Pengendalian Kusta Di Kawasan Perkotaan Dan Terisolir, serta PEP-COM.

Zero Disability/ Nihil Disabilitas, antara lain dengan program Kombinasi Pendekatan KPD Untuk Kusta Dan Filariasis, Semi Active Surveillance (SAS) Paska Berobat Kusta, serta Konseling Sebaya.

Zero Exclusion/ Nihil Eksklusi atau Stigma, mencakup program Mardika (Masyarakat Ramah Disabilitas Dan Kusta), LEAP, PADI, Long Term Investment, My Body is Mine, Anak dengan Down Syndrome, dan MIVA.

Selama sepuluh tahun terakhir , NLR Indonesia juga telah membangun dan mengorganisir kelompok perawatan diri bagi orang yang mengalami atau pernah mengalami kusta, bekerja sama dengan staf kesehatan dan supervisor kusta. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup orang yang pernah mengalami kusta.

Perlu disadari bersama, setelah menyimak perbincangan dan pemaparan narasumber dalam talkshow "Gaung Kusta di Udara", adalah pentingnya ketelitian madyarakat dalam menangkal informasi yang belum valid kebenarannya atau hoaks dalam hal kesehatan, termasuk kusta. Tak bisa dipungkiri, masih banyak masyarakat yang beranggapan penyakit kusta adalah penyakit keturunan atau kutukan. Padahal pernyataan tersebut keliru, sehingga para petugas kesehatan gencar menyosialisasikan bahwa penyakit Kusta disebabkan bakteri Mycobacterium Lepra yang menyerang kulit, dapat disembuhkan bila dilakukan pengobatan sejak dini.

Minggu, 17 November 2019

Yuk.. Cegah Kekurangan Zat Besi pada Anak di 1000 Hari Pertama Kehidupannya dengan Body Friendly Iron

Buibuk.. Gimana sih cara mengatasi kekurangan zat besi pada anak? Mari kita bahas..

maltofer, kekurangan zat besi
Saya dan Radit, anak saya yang saat ini berusia balita

Masa tumbuh kembang anak takkan pernah berulang. Sadarkah kita, bahwa ternyata kita hanya punya kesempatan 1000 hari untuk memberi asupan zat besi kepada si kecil? Masa-masa inilah yang disebut Golden Age, perhitungannya dimulai sejak hari pertama terbentuknya janin dalam kandungan, hingga 1000 hari selanjutnya, sampai anak berusia sekitar 2 tahun.

Kekurangan Zat Besi (Defisiensi Besi)


Sebelum membahas tentang kekurangan zat besi, kita perlu tahu terlebih dahulu bahwa zat besi merupakan salah satu nutrisi yang sangat penting terhadap fungsi organ dan sel dalam tubuh. Zat besi berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh melalui hemoglobin (Hb) yang terdapat dalam sel darah merah.

Kita sebagai orang tua seringkali terlena dengan kesibukan, tak jarang hal sepenting gizi harian si kecil bisa luput dari pikiran, sehingga anak beresiko kekurangan zat besi.

Namun, tahukah kita bahwa kekurangan zat besi (iron deficiency) adalah kekurangan gizi yang paling umum? Kasus ini hampir mempengaruhi 3 miliar orang di dunia lho..

Kekurangan zat besi terjadi ketika penyerapan zat besi kurang dari jumlah yang dibutuhkan tubuh. Hal ini bisa disebabkan kurangnya asupan zat besi yang diserap melalui makanan yang kita konsumsi. 

kekurangan zat besi maltofer
Ciri-ciri anak kekurangan Zat Besi (sumber : theasianparent)

Tingkat kekurangan zat besi yang lebih serius yakni anemia, dapat terjadi jika jumlah sel darah merah dalam darah sedikit atau kadar hemoglobin lebih rendah dari normal. Ciri-ciri kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi) bisa dilihat dari kondisi tubuh seseorang : pucat, nafas pendek sampai sesak, lidah bengkak disertai nyeri dan bibir pecah-pecah, mulut kering, tangan dan kaki terasa dingin, rambut rontok, kuku rapuh.

Dalam sebuah acara Maltofer Woman Community di Aston Hotel & Convention Makassar (3/11), yang mengangkat tema "Peran Penting Zat Besi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan" saya belajar lagi dari penjelasan salah satu narasumber, yakni Dr. Victor Siahaya Tjandra, Sp. A, bahwa ternyata Kekurangan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan tidak dapat diperbaiki di masa kehidupan selanjutnya. Itulah sebabnya orang tua harus paham pentingnya mencegah kekurangan zat besi pada anak.

maltofer, kekurangan zat besi
Saya di acara Maltofer Woman Community
Saya yang kebetulan seorang ibu dari anak berusia balita, sangat antusias dengan pemaparan Dr. Victor, apalagi tema 1000 Hari Pertama Kehidupan sangat erat kaitannya dengan yang saya alami saat ini. Terkait hal tersebut, bukan hanya nutrisi anak yang wajib diperhatikan, tapi status nutrisi ibu tentu juga sama pentingnya, utamanya selama masa kehamilan dan pertumbuhan janin, di mana bayi mengalami pertumbuhan otak, juga merupakan kesempatan untuk bayi bisa membangun tinggi badan dan berat badan potensial, sehingga ibu hamil butuh gizi mikro, protein, dan kalori.

Mengapa Zat Besi sangat Penting Dalam Proses Pertumbuhan Anak?


Sebelum membahas lebih jauh tentang manfaat zat besi untuk tumbuh-kembang anak yang dijelaskan Dr. Victor, saya mau curhat sedikit tentang seringnya saya dicerewetin sama adik saya yang kebetulan seorang dokter. Bawelnya itu lantaran sikap saya yang cenderung acuh tak acuh menghadapi selera makan anak saya yang picky-eater.

kekurangan zat besi, maltofer
dr. Victor Siahaya Tjandra, Sp.A
Saya akui, memang saya sempat menyerah ketika anak saya cuma geleng-geleng bahkan melepeh ketika disuapkan lauk daging atau sayuran.. "Baunya gak enak.." atau "Susah digigit.." sering jadi alasan untuk menolak makanan sehat yang saya sendokkan untuknya.

Seakan menemui jalan buntu, saya putuskan mengikuti saja selera makan anak saya.. Karena dia suka yang kriuk-kriuk, jadilah saya hanya memberi makan nasi dengan lauk krupuk.. (Maafkan saya, buibuk.. Saat ini saya sudah kapok bersikap gini..)

Nah.. karena berkali-kali menyaksikan saya hanya menyuapkan lauk krupuk ke anak, adik saya benar-benar sudah tidak tahan untuk segera menceramahi saya.. "Kok Radit cuma dikasih lauk krupuk? Gimana anaknya mau gede kalo tiap hari cuma makan karbohidrat sama krupuk? Zat besinya gimana? Hati-hati lho.. Pertumbuhannya bisa terhambat kalo kekurangan zat besi..", gitu katanya.

Sebagai ibu, kita harus bisa kreatif dalam menyajikan menu makanan agar mengundang selera makan si anak..

Kadang pula saya sajikan makanan disertai teh manis atau susu untuk menambah selera makannya. Memang sih, Radit lumayan semangat makan kalau ditemenin minuman yang manis-manis.. Tapi, bukannya seneng, adik saya malah tambah cerewet. Katanya, teh itu bisa menghambat penyerapan zat besi.. Duh.. makin pusing deh saya..

Dibawelin seperti itu sempat bikin saya kesel juga sih, apalagi sebagai orang awam, pemahaman saya memang sempit banget soal ini. Pikir saya saat itu, kekurangan zat besi hanya dialami oleh orang-orang Anemia.

Setelah iseng-iseng browsing sambil nyari-nyari solusi pemenuhan nutrisi dalam makanan anak, akhirnya saya benar-benar kesentil dan harus mengakui bahwa perkataan adik saya memang benar adanya.

Kekurangan zat besi gak hanya tentang anemia, tapi lebih kepada perannya dalam menyokong tumbuh-kembang seorang anak, terutama di 1000 Hari Pertama Kehidupannya. Gak heran lagi deh kenapa adik saya bisa demikian bawelnya menyinggung cara saya mengatur menu makan Radit di usia balitanya.

Hati Ayam, Lauk kesukaan Radit ini mengobati kekhawatiran saya akan potensi kekurangan zat besi pada anak (sumber : mommyasia)

Sejak saat ini pula, saya jadi sering beli hati ayam yang syukurnya, kebetulan Radit doyan banget sama rasanya, mudah dikunyah, dan punya kandungan zat besi tinggi. Sesekali saya juga mencampurkan sayur seperti wortel atau potongan sayuran hijau ke nasinya.

Menurut penjelasan Dr. Viktor, ini lho manfaat nutrisi (termasuk zat besi) pada 1000 Hari Pertama Kehidupan janin dan anak :
- Nutrisi sebagai penunjang perkembangan otak, sehingga berperan penting merangsang kemampuan  kognitif dan edukasional anak.
- Nutrisi menyokong pertumbuhan dan massa otot, serta komposisi tubuh, yang secara langsung mengontrol imunitas dan kemampuan kerja tubuh.
- Nutrisi memberikan kemampuan bagi tubuh dalam mengatur metabolisme Glukosa, Lipid, Protein, Hormon, Reseptor/Gen agar mampu mencegah resiko diabetes, obesitas, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, stroke, dan penuaan.

maltofer, kekurangan zat besi
Zat Besi sangat baik peranannya untuk meningkatkan daya tangkap dan konsentrasi anak saat belajar

Dalam pengaruhnya terhadap perkembangan otak, zat besi ternyata berperan sangat penting terhadap perkembangan metabolik, motorik, dan struktur otak janin dan anak, yakni pada bagian berikut :
- Korteks cerebral yang sangat besar kontrolnya terhadap perhatian, memori/ingatan, kesadaran persepsi, daya pikir dan bahasa anak.
- Hippocampus, merupakan pusat memori untuk pengenalan, pengolahan memori spasial, mentransfer memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang.

Jadi, jika anak mengalami defisiensi atau kekurangan zat besi, tentu akan menghambat perkembangan otaknya, terutama di 1000 Hari Pertama Kehidupan anak, karena pada masa Golden Age inilah perkembangan neuron berlangsung sangat cepat. Perlu dicatat juga, bahwa resiko kekurangan zat besi (defisiensi) paling tinggi terjadi pada usia 6-12 bulan yang bahayanya bisa mengganggu perkembangan otak.


Dari Mana Asupan Zat Besi Bisa Diperoleh?


Dari penjelasan di atas, saya jadi sadar, ternyata memang besar sekali ya peran zat besi terhadap tumbuh kembang anak, gak cuma untuk struktur tubuh, tapi juga langsung mengontrol fungsi otak.. Duh.. kebayang deh ngerinya kalo anak kekurangan zat besi, lantas melemahkan respon otaknya..

maltofer, kekurangan zat besi
Makanan yang mengandung zat besi (sumber : hellosehat)

Asupan Zat Besi untuk Anak bisa diperoleh dari makanan hariannya, terdiri dari :

Makanan Mengandung Besi-heme, dapat diperoleh dalam daging, ayam, dan ikan (daya absorpsi atau penyerapan zat besinya 2-3 kali lebih mudah dibanding besi-nonheme).
Makanan Mengandung Besi-nonheme, terdapat pada sayur-sayuran. (proses absorpsi besi-nonheme oleh tubuh bisa terhambat oleh zat-zat yang mengandung kalsium atau polifenol, namun bisa dikuatkan dengan konsumsi vitamin C).

Cara Mencegah Kekurangan Zat Besi pada Anak di 1000 Hari Pertama Kehidupannya

Sekali lagi, 1000 Hari Pertama Kehidupam seseorang buka dihitung dari hari kelahirannya, tapi dimulai dari proses pembentukan janin dalam kandungan. Makanya, status nutrisi ibu juga penting, sehingga kita diwajibkan rutin mengonsumsi suplemen zat besi ataupun makanan yang tinggi kandungan zat besinya.

maltofer, kekurangan zat besi
Dalam Acara Maltofer Woman Community, kita diajak untuk lebih aware terhadap pemenuhan kebutuhan zat besi harian anak..

Setelah anak dilahirkan, ia membutuhkan seluruh zat gizi (makro dan mikro) secara seimbang dari ASI eksklusif sampai 6 bulan, diteruskan dengan MP-ASI untuk pemenuhan zat besinya.

Lantas, gimana sih cara mencegah kekurangan zat besi pada anak, terutama di 1000 Hari Pertama Kehidupannya?

Dr. Viktor punya tips jitu nih buat kita, terutama buat ibu-ibu yang anaknya picky-eater seperti saya..

- Konsumsi makanan yang mengandung zat besi minimal 2kali sehari. Perlu diingat, bahwa sayuran hijau (besi non-heme) mengandung zat besi tinggi, tetapi hanya diserap 3-8%, berbeda dengan zat besi dari makanan hewani (besi-heme) yang mampu diserap hingga 23% oleh tubuh. Makanan seperti tahu, telur, dan kacang-kacangan.

- Konsumsi makanan yang mengandung vitamin C. Karena vitamin C dapat meningkatkan absorpsi zat besi dari serealia dan sayuran sebanyak 2 kali lipat, sehingga lebih banyak zat besi yang dapat diserap oleh saluran cerna. Tipsnya, masaklah makanan yang tinggi kandungan zat besinya, dipadukan dengan sumber vitamin C seperti jeruk, jeruk limau, stroberi, brokoli, atau paprika.

Maltofer, Kekurangan Zat Besi
Karena Radit termasuk anak picky-eater, jadi saya harus terapkan trik tertentu agar dia mau makan.. Salah satunya dengan membuat kreasi makanan..

- Hindari mengonsumsi susu atau teh saat makan utama, karena kandungan kalsium yang tinggi pada susu dapat menghambat penyerapan zat besi. Sementara teh mengandung zat polifenol yang dapat menghambat absorpsi zat besi. Disarankan mengonsumsi susu atau teh diminum di luar waktu makan utama.

- MP-ASI fortifikasi bisa jadi alternatif. Bayi perlu makan hati ayam sebanyak 85gram sehari (setara 3 potong sedang) atau 385gram daging sapi (hampir 1,5 porsi steak orang dewasa) untuk memenuhi kebutuhan zat besi harian, yakni 11mg/hari. Jumlah ini tentu sangat banyak untuk bayi berusia 6-12 bulan, sehingga MPASI fortifikasi yang kaya besi bisa jadi alternatif asupan zat besi.

Tabel Makanan Pendamping ASI (MPASI) dari WHO/UNICEF panduan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi anak (sumber : duniasehat)


Terapkan Pola Makan yang Efektif untuk Mencegah Kekurangan Zat Besi pada Anak

Setelah memahami cara mencegah kekurangan zat besi dari segi pola makan, dengan memperhatikan kandungan nutrisi makanan yang kita berikan ke anak, ternyata ada saran juga nih untuk mengatur jadwal makannya, agar penyerapan zat besinya juga lebih efektif.

- Jadwal makanan utama dan snack (makanan selingan) secara teratur dan konsisten, yaitu 3x makanan utama dan 2x makanan kecil, termasuk susu yang bisa diberikan 2-3x sehari.

- Upayakan waktu makan tidak boleh lebih dari 30menit.

- Konsumsi air putih saja ketika waktu makan, bukan dengan teh atau susu agar penyerapan zat besinya lebih optimal

Mencegah Kekurangan Zat Besi dengan Suplemen Zat Besi Body Friendly Iron

Sejatinya, 1000 Hari Pertama Kehidupan atau Golden Age, sesuai artinya adalah masa-masa emas tumbuh kembang seorang anak, yang jika berfungsi optimal, akan berdampak secara jangka panjang ke proses perkembangan seseorang hingga menginjak usia dewasa.

maltofer, kekurangan zat besi
Yuk Cegah Kekurangan Zat Besi pada Anak agar ia tak kehilangan keceriaannya..

Kekurangan zat besi (defisiensi) pada ibu mempengaruhi status zat besi dan perkembangan otak janin, serta memungkinkan terjadinya peningkatan resiko defisiensi dan perubahan perilaku bayi. Sementara itu, kekurangan zat besi pada bayi akan berefek pada kinerja kognitif jangka pendek dan jangka panjang, perilaku sosio-emosional, serta perkembangan motoriknya.

Selain dari makanan, asupan zat besi dapat pula diperoleh dari suplemen zat besi. Tapi, memilih suplemen zat besi juga tidak boleh sembarangan, harus yang mudah diserap dan aman bagi tubuh, minim efek samping, atau body friendly iron.

Jujur, saya pun sempat meragukan suplemen zat besi yang pernah saya konsumsi sebelumnya. Bagai pucuk dicinta ulam tiba, di Maltofer Woman Community, hadir Dr. Karlinda Megawati dari Combiphar yang menyampaikan satu solusi memilih suplemen zat besi yang baik untuk tubuh, yakni Maltofer.

maltofer, kekurangan zat besi
Dr. Karlinda Megawati dan Dr. Victor Siahaya

Saya sendiri baru kali itu kenal dengan Maltofer. Selama ini, saya mengenal Combiphar sebagai brand obat-obatan yang produknya banyak dipilih masyarakat Indonesia untuk sebagai solusi  mengatasi penyakit.

Mengenal Maltofer, Body Friendly Iron yang Berbeda dari Suplemen Zat Besi Lainnya

Kasus kekurangan zat besi bisa terjadi pada siapa saja, tanpa batasan usia, dari anak-anak hingga dewasa, dikarenakan kurangnya kandungan zat besi yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi. Akibatnya, kadar zat besi dalam tubuh ikut menurun.

Oleh karena itu, peranan suplemen zat besi menjadi penting. Alasan ini yang melatarbelakangi Combiphar ketika meluncurkan Maltofer, suplemen zat besi oral untuk semua usia, yang secara klinis mampu memperbaiki kadar zat besi dalam tubuh, sebagai terapi pencegahan kekurangan zat besi atau Anemia Defisiensi Besi. Maltofer merupakan produk Swiss yang telah hadir di lebih dari 80 negara.

maltofer, kekurangan zat besi
Maltofer, Suplemen zat besi yang aman untuk tubuh, minim efek samping

Mengapa Maltofer Berbeda ?

Kebanyakan orang mengonsumsi suplemen zat besi yang mengandung ferrous salt, seperti ferrous sulphate, ferrous fumarate, dll). Ferrous salt inilah yang diserap tubuh secara tidak terkontrol, sehingga dapat menimbulkan efek samping seperti konstipasi, perut kembung, diare, dan rasa mual.

Awalnya, saya sempat menyangka kalau Maltofer ini semacam multivitamin atau suplemen zat besi yang cenderung sama dengan produk sejenis. Sebelumnya, saya pernah disarankan oleh dokter untuk minum suplemen zat besi setelah bersalin, tapi tidak lama sesudahnya, perut saya terasa kembung. Efek samping inilah yang membuat saya agak malas mengonsumsi suplemen zat besi, lupa akan pentingnya zat besi untuk tubuh.

maltofer, kekurangan zat besi
Maltofer berbeda dengan suplemen zat besi lainnya, sangat baik untuk menunjang pertumbuhan anak di 1000 Hari Pertama Kehidupannya

Begitupun ketika pertama kali bertemu Maltofer, saya sempat takut kalau-kalau Maltofer beresiko sama. Ternyata, setelah dijelaskan oleh Dr. Karlida, ternyata persepsi saya salah lho, buibuk.. Preparat Maltofer hanya mengandung zat besi saja, yakni Iron Polymaltosa Complex (IPC), senyawa larut air yang terdiri dari inti besi (III)-hidroksida dengan polymaltosa shell yang menyerupai ferritin.

IPC dalam Maltofer diserap secara aktif dan terkontrol agar tubuh hanya menyerap zat besi sesuai kebutuhan, sehingga penyerapan zat besi menjadi lebih efektif, dan mengurangi timbulnya efek samping.

Karena IPC ini pula, Maltofer aman-aman saja jika Maltofer diminum bersama teh atau susu, tidak akan menimbulkan reaksi negatif yang bisa menghambat penyerapan zat besi (telah diuji coba di Maltofer Woman Community).

Uji Coba Daya Serap Maltofer dalam minuman teh, terbukti bahwa Maltofer masih bisa larut tanpa menimbulkan reaksi negatif

Lapisan polymaltosa pada Maltofer memberi stabilitas dan kelarutan komponen kompleks besi, sehingga toksisitasnya rendah dan torabilitasnya baik. Inilah sebabnya Maltofer layak dikatakan sebagai body friendly iron.

Soal rasa, Maltofer juga punya keunikan tersendiri yakni rasa coklat Swiss yang membuatnya lebih enak dikonsumsi untuk segala usia.

Varian Maltofer, Body Friendly Iron

Untuk bisa segera merasakan manfaat Maltofer bagi tubuh, ternyata tidak susah lho.. Karena saat ini Maltofer sudah tersedia di apotek dan toko obat seluruh Indonesia dalam 4 varian, diantaranya :

- Maltofer drops 30 ml, kemasan tetes yang dapat diminum oleh segala usia, dari bayi, anak-anak, hingga dewasa (termasuk ibu hamil dan menyusui)
- Maltofer sirup 150 ml, kemasan sirup untuk anak dan dewasa
- Maltofer Chew, suplemen zat besi pertama di Indonesia dalam varian tablet kunyah
- Maltofer Fol tablet kunyah, dengan kandungan adam folat untuk ibu hamil.

Maltofer tersedia dalam 4 varian untuk segala usia (sumber foto : Maltofer)


Kita dianjurkan mengonsumsi Maltofer selama atau setelah makan. Maltofer drops dan sirup dapat dicampur dengan jus buah dan sayuran, atau dengan minuman botol. Adanya pewarnaan tidak mempengaruhi rasa maupun khasiatnya. Maltofer tablet dapat dikunyah atau ditelan langsung. Dosis harian dapat dibagi dalam beberapa dosis atau dapat dikonsumsi sekaligus.

Saya sendiri sudah mencoba Maltofer Chew sebagai suplemen zat besi harian saya. Kesan pertama, rasa coklat Swiss-nya sangat enak, sehingga saya yakin anak-anak juga bakalan suka sama rasanya. Selama beberapa hari konsumsi, saya tidak merasakan ada efek samping seperti konstipasi atau mual. Begitupun jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau minuman lainnya, saya merasa nyaman-nyaman saja.

Sebagai body friendly iron, Maltofer sangat bisa diandalkan sebagai coverage bagi tubuh dalam mencegah kekurangan zat besi di 1000 Hari Pertama Kehidupan, sebagai suplemen zat besi untuk ibu hamil dan janinnya, juga untuk anak-anak.

Maltofer, kekurangan zat besi
Maltofer Chew atau Tablet Kunyah, tersedia dalam rasa coklat Swiss yang enak

Di acara Maltofer Woman Community, Dr. Karlinda juga sempat menyinggung bahwa Maltofer tetap aman jika diminum bersamaan dengan obat-obatan lain, namun ada baiknya menghubungi dokter atau apoteker dulu.

***
Maltofer, kekurangan zat besi
Blogger Makassar yang hadir dalam Maltofer Woman Community

So, yuk kita sebagai ibu lebih semangat memberikan asupan zat besi sesuai kebutuhan tubuh anak. Jangan sampai anak kita mengalami kekurangan zat besi. Apalagi saat ini sudah ada Maltofer yang siap menjadi solusi mengatasi masalah kekurangan zat besi, dengan formulanya yang lebih aman untuk tubuh..

Untuk info lebih lanjut mengenai Maltofer, cek di maltofer.combiphar.com atau di instagram @maltoferid dan di facebook Maltofer Indonesia.

Have a Nice Healthy Day..

***
#maltofer
#maltoferwomancommunity
#maltoferIndonesia
#Combiphar
#Makassar